Penulis: Shaffa Az Zahra, Arwa Izdihar Ahmad/EQ
Editor: Atha Bintang Wahyu Mawardi/EQ
Layouter: Arasty Lyla Ramadhani, Vini Wang/EQ
Masyarakat Jawa telah lama mengenal pepatah angon mangsa, secara harfiah berarti ‘menggembala musim’, yang mengajarkan pentingnya menentukan waktu yang baik sebelum bertindak. Pemahaman akan pepatah ini melahirkan sebuah budaya perhitungan waktu yang disebut weton. Kini, terpaan anggapan bahwa weton tidak memiliki dasar sains yang kuat membuat budaya ini kian terpinggirkan dalam peradaban. Dalam artikel ini, mari kembali berkenalan dengan weton dan menghidupkannya kembali sebagai persembahan nguri-uri kabudayan.
Jejak Sejarah dan Konsep Dasar Weton
Sistem weton lahir dari perpaduan kalender Jawa kuno yang dipengaruhi budaya Hindu, Islam, dan lokal. Kalender Jawa sendiri memperkenalkan dua siklus waktu: siklus mingguan yang dibagi menjadi 7 hari dan siklus pasaran yang berjumlah 5 hari. Pasaran terdiri atas hari-hari yang dinamakan Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. weton dipahami sebagai hasil dari penggabungan hari kelahiran seseorang dengan salah satu pasaran tersebut.
Jika belahan bumi barat mengenal zodiak, weton menjadi kembaran yang tak identik. Bagaimana bisa? Karena keduanya merupakan pengelompokkan yang berangkat dari ramalan tanggal lahir seseorang. Seperti zodiak, weton juga digunakan untuk berbagai perhitungan, seperti penentuan hari baik, peramalan karakter, nasib, bahkan kompatibilitas pernikahan.
Perhitungan weton dimulai dengan mengkombinasikan nilai neptu hari dan Pasaran. Neptu adalah angka yang mewakili suatu hari dalam siklus mingguan dan pasaran. Hari (dina) dalam kalender Jawa, mengikuti kalender Masehi, memiliki neptu: Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (9), Minggu (5). Sedangkan pasaran memiliki neptu: Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), Kliwon (8). Maka, sebagai gambaran, orang dengan weton Rabu Kliwon akan memiliki neptu 15. Angka tersebut nantinya dapat digunakan untuk peramalan sesuai kitab primbon Jawa.
Artikel Agustina (2025) memberikan contoh hasil peramalan weton. Misalnya, menurut primbon Jawa, orang dengan weton Rabu Kliwon tadi memiliki karakter lakuning srengenge, memiliki sifat matahari yang terang, berwibawa, dan mencerahkan. Namun, weton tersebut juga menggambarkan lebu katiyup angin, yaitu hidup yang serba kekurangan, jauh dari keberuntungan, serta sulit berkembang dalam pekerjaan dan usahanya.
Menurut Dr. Iva Ariani, pakar filsafat Jawa, dalam UGM Podcast (2022), hasil weton tidak bisa dimaknai sebagai nasib mutlak. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang dianggap memiliki weton yang kurang baik, orang tersebut dapat menjalankan laku, berbagai bentuk tirakat yang berfungsi menyucikan batin dan melatih pengendalian diri. Bentuk laku ini seperti poso (berpuasa untuk menahan hawa nafsu) dan topobroto (menarik diri dari hiruk pikuk duniawi untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Tuhan).
Lebih jauh, Dr. Iva juga menyinggung pandangan kosmologis Jawa tentang sedulur papat limo pancer. Istilah ini bermakna bahwa ketika dilahirkan, kita memiliki 4 saudara yang mengelilingi kita sebagai pancer layaknya arah mata angin, yaitu kakang kawah (ketuban), adi ari-ari (plasenta), darah, dan tali pusar. “Dalam kepercayaan Jawa, hidup kita dikelilingi oleh hal-hal yang bisa menjaga kehidupan kita, kalau kita berbuat baik. Kalau kita melakukan laku, maka itu akan mendekatkan sedulur papat lima pancer dan menjaga langkah kita ke depan,” tegas Dr. Iva. Hal ini menegaskan bahwa weton menjembatani mikrokosmos (diri) dan makrokosmos (alam semesta), mengingatkan bahwa harmoni dapat tercapai ketika manusia hidup seirama dengan alam dan kesadarannya sendiri.
Pandangan Terhadap Weton di Era Modern
Persepsi masyarakat mengenai weton mulai bervariasi seiring waktu, khususnya bagi generasi muda. Hal ini selaras dengan penelitian Azmi dan Cahyono (2025) bahwa terdapat dua pandangan dari generasi muda terhadap weton: percaya dan tidak percaya. Kepercayaan terhadap weton pada generasi muda sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan keluarga.
Dalam masyarakat Jawa, tradisi weton dianggap menjadi bagian dari adat istiadat yang penting, terutama dalam proses menentukan kecocokan pasangan sebelum pernikahan.Dalam penelitian disebutkan, anak muda yang tumbuh di keluarga yang memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa cenderung percaya dan mengikuti perhitungan weton. Mereka tak hanya menganggap weton sekadar perhitungan tanggal lahir, tetapi juga sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan.
Namun, di lain sisi, banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan relevansi weton dalam konteks kehidupan modern. Mereka cenderung berpikir rasional dan lebih mengedepankan logika dalam mengambil keputusan. Hal ini sejalan dengan pandangan Aisy, seorang mahasiswa dari Yogyakarta, yang menilai bahwa membaca sifat seseorang berdasarkan weton terasa kurang masuk akal. Menurutnya, manusia adalah makhluk yang jauh lebih kompleks dibandingkan alam, sehingga ia beranggapan bahwa karakter seseorang tidak mungkin dapat dianalisis dengan weton saja.
Pergeseran pola pikir tersebut justru membuka ruang dialog baru agar weton dapat dipahami secara lebih proporsional dalam kehidupan masa kini. Melihat dinamika yang berkembang, penting untuk melihat kembali akar dari weton agar pemahaman yang berkembang tidak sekadar berbasis kepercayaan, tetapi juga pada prinsip-prinsip yang lebih rasional. Di sinilah relevansi konsep dasarnya menjadi menarik untuk dibahas lebih jauh.
Weton sendiri didasari oleh titen, yang jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah ‘mengamati’. Ilmu titen ini dilakukan oleh para leluhur dengan cara mengamati perilaku alam. Hasil pengamatan para leluhur inilah yang kemudian digunakan sebagai patokan dalam menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi.
Menurut Dr. Iva, generasi muda harus memahami konsep weton dengan benar. Bentuk pemahaman itu menegaskan bahwa penerapan weton tetap harus dibarengi dengan logika berpikir. Kedudukan weton dalam dunia modern tak lagi menjadi tolak ukur secara penuh, melainkan digunakan sebagai bentuk antisipasi dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat perkembangan cara pandang generasi muda terhadap weton serta pentingnya menyeimbangkan tradisi dengan logika modern, maka sudah saatnya kita mulai bijak dalam memposisikan warisan budaya ini. Jangan hanya menelan mentah-mentah, tetapi kita juga perlu untuk memahami maknanya dan menggunakan seperlunya sebagai bentuk kehati-hatian dalam hidup. Mari jadikan weton sebagai pengetahuan kebudayaan, bukan sebagai sesuatu yang bersifat mutlak, agar kita tetap dapat menghargai budaya tanpa mengabaikan rasionalitas yang dibutuhkan di era saat ini.
Referensi:
Agustina, R. T. (2025). Weton Lakuning Bumi Weton apa? Ketahui makna karakter watak weton dalam Primbon Jawa. Portal Pati. https://portalpati.pikiran-rakyat.com/pati/pr-1939613966/weton-lakuning-bumi-weton-apa-ketahui-makna-karakter-watak-weton-dalam-primbon-jawa?page=2
Azmi, F., & Cahyono, H. B. (2025). Persepsi generasi muda tentang weton dalam pernikahan adat Jawa di era modern Desa Semboro Kabupaten Jember. Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 11(5), 31–40. https://ejournal.cahayailmubangsa.institute/index.php/triwikrama/article/view/6382
Universitas Gadjah Mada. (2022). Antara Zodiac, Weton dan Sains #UGMPodcast [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=QqDDrspS3RE