Oleh: Ummi Anifah dan Adella Wahyu Pradita/EQ
Editor: Saffanah Calista
Ilustrasi oleh: Muhamad Sukron Mahfud dan Aisya Prisetyaputri/EQ
Perdebatan terkait relevansi organisasi mahasiswa (ormawa) seakan menjadi buah bibir yang tidak pernah lekang oleh waktu, khususnya di kalangan mahasiswa. Beberapa waktu lalu, jagat Twitter ramai oleh unggahan di akun @collegemenfess yang membicarakan fenomena meredupnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Merespons unggahan tersebut, netizen terbagi menjadi dua kubu yang saling silang pendapat. Mayoritas beropini bahwa saat ini ormawa memang tidak lagi relevan dengan sederet argumentasinya. Lantas, apa yang melatarbelakangi fenomena ini? Apakah benar organisasi sudah tidak lagi relevan bagi mahasiswa?
Eksistensi ormawa yang meredup juga bisa dirasakan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Hal ini terlihat dari sepinya peminat beberapa ormawa. Berdasarkan survei BPPM Equilibrium terhadap mahasiswa dari berbagai fakultas dan sekolah di UGM, sebanyak 30 dari 88 (34%) responden memberikan nilai 3 dari 5 pada pertanyaan terkait urgensi mengikuti ormawa selama berkuliah. Ini menunjukkan bahwa urgensi ormawa di mata sebagian mahasiswa tidak terlalu tinggi. Fenomena ini juga dirasakan oleh Gielbran Muhammad Noor, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2023. Ia mengeluhkan sulitnya mencari mahasiswa untuk mengisi posisi-posisi strategis dalam organisasi. “Kalau open recruitment (untuk posisi) staf (pendaftarnya) masih ramai, tetapi untuk jabatan seperti ketua acara, menteri kabinet, dan sejenisnya, agak susah mencari mahasiswa (yang berminat),” paparnya.
Penurunan minat mahasiswa terhadap ormawa bukanlah tanpa alasan. Salah satu faktor yang melatarbelakangi adalah munculnya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Melalui program MBKM, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bermaksud memberikan ruang bagi mahasiswa untuk merasakan dunia kerja secara langsung, yang imbasnya terlihat pada pergeseran paradigma mahasiswa menjadi career-oriented. Akibatnya, aktivitas yang kurang relevan dengan persiapan karier, seperti berpartisipasi dalam ormawa, dianggap tidak memberikan benefit yang signifikan. Terlebih, MBKM menawarkan manfaat yang menggiurkan, mulai dari uang saku, sertifikat, hingga pengalaman kerja yang lebih praktikal.
Eksistensi ormawa yang meredup juga dilatarbelakangi oleh relevansi ormawa yang mulai dipertanyakan. Hal ini karena kegiatan dan program kerja yang cenderung monoton dari tahun ke tahun. Tak heran jika kita sering mendengar ormawa dianggap sebatas event organizer. Mahasiswa juga sering mengeluhkan kebiasaan negatif di ormawa yang sudah membudaya, misalnya rapat yang molor akibat pembahasan yang bertele-tele. Tak hanya itu, anggota ormawa juga sering dilekatkan dengan stereotipe 'budak organisasi' akibat beban kerja yang menguras tenaga dan waktu. Terlebih, hubungan individu yang tidak harmonis yang berujung perselisihan juga menjadi faktor ormawa mulai meredup.
Sebelum memutuskan untuk berpartisipasi ke dalam sebuah organisasi, mahasiswa melakukan pertimbangan terhadap biaya dan manfaat yang timbul dari keputusannya. Saat mahasiswa melihat bahwa biaya yang timbul lebih besar daripada manfaat yang diperoleh, keputusan untuk bergabung ke dalam ormawa menjadi tidak relevan. Adapun, biaya yang ditanggung oleh mahasiswa tidak terbatas pada biaya secara moneter, tetapi juga waktu dan tenaga yang harus dikorbankan. Walaupun demikian, hal tersebut tidak berlaku untuk semua mahasiswa sebab terdapat kelompok-kelompok mahasiswa yang masih melihat bahwa ormawa membawa manfaat yang sangat besar. Oleh karenanya, keputusan untuk berpartisipasi ke dalam ormawa menjadi tetap relevan baginya.
Terlepas dari beberapa uraian negatif tentang ormawa sebelumnya, sejatinya ormawa tetap dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa. Ormawa memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, dan berjejaring. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Cita Amalia Husna, Mahasiswa Berprestasi 1 UGM 2022. Cita menyatakan bahwa ia mendapatkan banyak pembelajaran berharga saat mengikuti ormawa, seperti kemampuan bernegosiasi, cara presentasi yang baik, serta manajemen waktu. “Tentunya, untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, mahasiswa perlu memilih ormawa sesuai dengan minatnya dan memiliki tujuan yang jelas ketika mendaftar,” ujarnya.
Menurut Cita, mahasiswa harus proaktif dalam berorganisasi sebab hal tersebut dapat menjadi bekal dalam merintis karier. Cita menceritakan bahwa pengalamannya dalam menjabat sebagai Director of Consulting 180 Degrees Consulting UGM tahun 2021/2022 membentuknya menjadi seorang pemimpin. Baginya, pengalaman kepemimpinan dalam berorganisasi sangat membantu dalam perjalanan kariernya. “Biasanya ketika mendaftar magang ataupun kerja, human resource (HR) akan lebih melirik mahasiswa yang pernah menjadi kepala divisi atau koordinator, bukan hanya staf, sebab relatif mendapatkan exposure lebih banyak dan dinilai terlatih menyelesaikan berbagai masalah seefisien mungkin,’’ ungkapnya berdasarkan pengalaman. Dengan memiliki pengalaman menduduki posisi strategis di ormawa, tentunya mahasiswa memiliki nilai tambah dalam upaya merintis karier.
Relevansi ormawa mulai dipertanyakan sebab di mata mahasiswa tidak menawarkan benefit yang signifikan, terlebih jika kultur di dalamnya tidak sehat. Walaupun demikian, ormawa dapat memberikan pengalaman yang berguna untuk pengembangan diri mahasiswa. Oleh karenanya, agar tetap relevan bagi mahasiswa, ormawa perlu menciptakan iklim organisasi yang nyaman bagi para anggotanya. Tak hanya itu, ormawa harus melakukan inovasi dengan menciptakan program yang lebih kreatif dan berdampak. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Gielbran. Menurutnya, ormawa perlu melakukan perubahan pada budaya dan cara kerja organisasi, serta menciptakan program yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa yang sekarang lebih pragmatis.
Referensi
Capri, W. & Sultansyah, D. R. P. 2023. Membaca Arah MSIB: Reorientasi Pendidikan Tinggi dalam Kerangka Neoliberalisme dan Revolusi Industri 4.0. Diakses melalui https://megashift.fisipol.ugm.ac.id/2023/02/13/membaca-arah-msib-reorientasi-pendidikan-tinggi-dalam-kerangka-neoliberalisme-dan-revolusi-industri-4-0/, pada 29 Maret 2023.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek). 2022. Kampus Merdeka. Diakses melalui https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/, pada 2 Mei 2023.
Dirjen PT Kemdikbud RI. 2022. Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Organisasi Kemahasiswaan. Diakses melalui https://dikti.kemdikbud.go.id/pengumuman/pedoman-pelaksanaan-kegiatan-organisasi-kemahasiswaan/, pada 29 Maret 2023.
Stobierski, T. 2019. How to Do A Cost-Benefit Analysis & Why It’s Important. Diakses melalui https://online.hbs.edu/blog/post/cost-benefit-analysis, pada 13 Mei 2023.
Pengunjung : [WPPV-TOTAL-VIEWS]