Penulis : Kalyca Indira Theta & Dwi Zhafirah Meiliani/EQ
Editor : Handri Regina Putri/EQ
Layouter : Vidhyazputri Belva Aqila/EQ

Memasuki bulan Ramadhan, semangat religius dan kebersamaan semakin terasa, termasuk di kalangan mahasiswa. Bulan suci ini tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan amal ibadah, tetapi juga menjadi peluang berwirausaha. Dengan kreativitas dan semangat muda, mahasiswa turut meramaikan Pasar Ramadhan dengan beragam produk kuliner, mulai dari es buah segar, gorengan gurih, hingga hidangan berat yang menggiurkan. Meski dengan modal terbatas, mereka mampu menciptakan usaha yang menguntungkan.

Tidak hanya sekadar mencari keuntungan finansial, mahasiswa juga memanfaatkan Ramadhan sebagai ajang berbagi dan mempererat kebersamaan. Mereka menyisihkan uang saku dan waktu luang untuk berpartisipasi dalam aksi sosial, seperti membagikan takjil atau paket buka dan sahur kepada yang membutuhkan. Di sisi lain, banyak mahasiswa memanfaatkan program buka puasa dan sahur gratis yang diselenggarakan di masjid-masjid kampus atau area sekitar. Ramadhan pun menjadi momen istimewa yang penuh berkah dan kebersamaan.

Kreativitas dan Semangat Wirausaha

Aktivitas berjualan di bulan Ramadhan tidak hanya menjadi sumber penghasilan tambahan bagi mahasiswa, tetapi juga sarana mengasah keterampilan bisnis. Seperti menganalisis pasar, menyusun strategi pemasaran, dan mengelola keuangan. Hal ini terlihat dari pengalaman mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berjualan di Pasar Ramadhan.

"Ya, saya merasa dengan berjualan, saya dapat mengasah keterampilan manajemen keuangan juga manajemen waktu antara berjualan dan belajar," ujar Angger, mahasiswa Akuntansi angkatan 2023, yang biasa berkutat dengan laporan keuangan teori, kini Angger terjun langsung mengelola cash flow usaha es buah.

Akan tetapi, berwirausaha di tengah kesibukan kuliah tidaklah mudah. Banyak pelaku usaha menghadapi kesulitan ketika cuaca buruk, hingga kesulitan membagi waktu antara berjualan dan belajar. Seperti yang dialami oleh Ghesang, mahasiswa Perbankan angkatan 2024, yang berjualan magic water. Ia mengaku, cuaca hujan sering menjadi penghalang karena produknya harus dibuang jika tidak habis terjual.

"Jika cuaca sedang hujan memang mendatangkan kerugian. Soalnya magic water sendiri kalau tidak habis itu harus dibuang. Selain itu, terkadang saya ketiduran karena capek habis berjualan sehingga saya pernah kelewat deadline mengumpulkan tugas," tegas Ghesang.

Meski begitu, semangat mereka tidak pernah surut. Dengan kreativitas dan kerja keras, mahasiswa seperti Ghesang tidak hanya mendapatkan penghasilan tambahan, tetapi juga pengalaman berharga yang dapat menjadi bekal di masa depan.

Merajut Kebersamaan dalam Aksi

Lebih dari sekadar peluang usaha, Ramadhan juga mengajarkan nilai kebersamaan di kalangan mahasiswa. Banyak yang tergerak untuk berbagi dengan sesama baik secara individu maupun melalui komunitas. Salah satunya Muhammad Syafiq, mahasiswa Ilmu Ekonomi angkatan 2024, yang turut berkontribusi melalui lembaga kemahasiswaan Jamaah Mahasiswa Muslim Ekonomi (JMME) FEB UGM.

“Kita bersama Sharia Economics Forum (SEF) mengadakan kajian dan buka bersama setiap hari Senin dan Kamis untuk civitas FEB UGM dan berbagi ke panti asuhan melalui acara bakti sosial,” tuturnya. Selain kolaborasi JMME dan SEF, program ini bisa berjalan juga karena adanya kolaborasi civitas FEB UGM, mulai dari dana, perlengkapan, dan sebagainya.

Syafiq juga mengungkapkan bahwa keterlibatannya memberikan pengalaman bermakna bagi dirinya. “Selain memang kewajiban sebagai staff, kegiatan ini bermanfaat untuk mengisi waktu luang saya selama Ramadhan. Saya juga merasa senang dan berkah karena bisa berbagi kepada sesama,” kata Syafiq ketika ditanyai perihal motivasinya berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Pengalaman bermakna tak hanya terdengar dari mereka yang berbagi, melainkan juga dari mahasiswa yang menerima. Sebagaimana yang dirasakan oleh Rizky Aditya dan teman-temannya yang kerap berburu program buka puasa dan sahur gratis atau akrab disebut sebagai “war”.

“Ikut war buka dan sahur menjadi pengalaman baru bagi saya sebagai mahasiswa. Saya harus bersiap dari setelah ashar, bahkan sebelum pukul tiga pagi agar bisa mendapatkan kupon makanan,” ucapnya.

Meskipun butuh perjuangan, Adit dan teman-temannya tetap memperoleh hal berkesan selama war tersebut. “Bayangin aja waktu itu kita bonceng tiga ke Masjid Kampus (Maskam) pagi-pagi buta untuk sahur bareng. Sungguh pengalaman yang seru bagi saya sebagai mahasiswa rantau. Jadi enggak sendiri-sendiri banget,” cetus Adit sembari tertawa.

Pengalaman berbagi maupun berburu buka dan sahur selama Ramadhan mencerminkan dinamika kehidupan mahasiswa yang penuh kebersamaan. Kedua pengalaman ini menggambarkan bagaimana Ramadhan menjadi waktu yang penuh kehangatan, di mana solidaritas dan semangat berbagi semakin terasa walaupun di tengah kesibukan akademik.

Kesempatan Cuan dan Hemat

Tak hanya menghadirkan kebersamaan, Ramadhan juga membawa dampak ekonomi yang menarik bagi mahasiswa. Ramadhan menjadi momen di mana permintaan pasar meningkat sehingga menjadi kesempatan mahasiswa mendapatkan penghasilan tambahan. Sementara bagi mahasiswa yang berburu makanan gratis, ini adalah kesempatan untuk lebih menghemat pengeluaran.

“Karena ada kebijakan pengurangan beban SKS selama Ramadhan, saya jadi punya kesempatan untuk berjualan dan dapat penghasilan tambahan. Penghasilan dari es buah lumayanlah untuk membayar keperluan, itu juga masih sisa jadi bisa ditabung,” tutur Angger.

Di sisi lain, mahasiswa juga bisa lebih berhemat dengan banyaknya tawaran buka dan sahur gratis. “Walau harus susah-susah war, tentunya jadi lebih hemat. Biasanya saya sehari jadi enggak keluar uang sepeser pun,’’ kata Adit ketika membahas peluang ekonominya sebagai mahasiswa di bulan Ramadhan.

Ramadhan memang bukanlah persoalan menahan lapar dan dahaga saja, melainkan momen penuh keberkahan yang membawa manfaat bagi semua, atau rahmatan lil ‘alamin. Oleh karena itu, kita perlu memaknai Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Sebagai momentum refleksi, produktivitas, dan kebersamaan agar nilai-nilai kebaikan yang telah dijalankan selama bulan ini dapat terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari, bahkan setelah Ramadhan berakhir.