Penulis: Najwa Anggi Namira & Marcellinus Krisando Suhatno/EQ
Editor: Handri Regina Putri/EQ
Layouter: Glori Silaban/EQ

Young Entrepreneurs Show (YES!) sukses kembali digelar sebagai agenda tahunan Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen (IKAMMA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Sebagai bagian dari IKAMMA, YES! bertujuan untuk menumbuhkan semangat wirausaha bagi kalangan generasi muda. Di ketuai oleh Rafif Imtiyaaz Muhammad, kegiatan ini berlangsung pada 31 Oktober-1 November 2025 di Eastparc Hotel Yogyakarta dengan mengangkat tema “The Catalyst of Change”.

Sebagai pembuka seluruh dialog acara, Entrepreneurs Talks hadir sebagai talkshow interaktif yang menghadirkan dua pembicara inspiratif yaitu Ferry Irwandi, Co-Founder Malaka Project, dan Yandy Laurens, sutradara serta penulis skenario film Sore: Istri dari Masa Depan. Entrepreneurs Talks ini merupakan salah satu dari dua rangkaian utama YES!, bersama dengan Entrepreneurs Table, yang bersama-sama dirancang untuk memberikan wawasan dan motivasi bagi calon-calon entrepreneur muda Indonesia.

Day 1:  Dari Atensi hingga Empati, Kunci Wirausaha Masa Kini

Entrepreneurs Talk pada Jum’at (31/10) diawali dengan sambutan dari ketua IKAMMA, Abednego Pangaribuan, CEO YES! 2025, Rafif Imtiyaaz Muhammad, serta perwakilan dari FEB UGM, Dr. Rangga Almahendra, S.T., M.M. Dalam pidato sambutannya, Rangga Almahendra berpesan agar wirausahawan memiliki keberanian untuk berpikir jangka panjang, didukung oleh keselarasan antara pikiran dan hati yang tenang. “Anda dituntut bukan hanya untuk punya wira, ya, (yang) artinya berani, tetapi bagaimana seorang wirausahawan itu berpikir lebih jauh,” ujarnya.

Sesi Entrepreneurs Talk bersama Ferry Irwandi (© Panitia YES! 2025)

Usai pidato sambutan, acara Entrepreneurs Talks dilanjutkan dengan sesi pertama, yaitu talkshow bersama Ferry Irwandi, Co-Founder Malaka Projects sekaligus konten kreator dan aktivis. Pada sesi yang mengusung sub tema Being Entrepreneur In This Economy: Surviving, Adapting, and Building in Uncertain Times ini, Ferry langsung menyelami persoalan dengan menanggapi tantangan klasik para entrepreneur yang harus menggali ide segar di tengah tren daya beli masyarakat yang cenderung menurun. Ia tidak hanya berbagi strategi bertahan, tetapi juga membongkar ekosistem unik yang ia bangun di Malaka Project, yang menjangkau berbagai lini, mulai dari engagement di media sosial hingga kolaborasi strategis dengan institusi perguruan tinggi.

Selama sesi berlangsung, Ferry Irwandi juga menyampaikan beberapa hal terkait atensi publik.  Ia menjelaskan bahwa atensi publik berperan sebagai “kemasan’ yang membungkus setiap konten di media sosial, sehingga berpengaruh terhadap pengambilan keputusan konsumen. Oleh karena itu, salah satu tugas utama entrepreneur di era sekarang adalah meningkatkan kemampuan untuk mengambil dan mempertahankan atensi publik.

Lebih lanjut, Ferry menyatakan bahwa atensi yang berkualitas tidak bisa dibangun dari konten kosong, melainkan harus ditopang oleh ilmu pengetahuan. Ia pun memberikan pandangan tentang pendidikan formal, dengan bijak menekankan bahwa ilmu bisa diperoleh di mana saja, tidak terbatas pada bangku kuliah. Namun, bangku perkuliahan memberikan peluang arah yang lebih besar. “Ketika lu kuliah, opsi hidup lu kedepan akan lebih banyak. That’s it,” ucapnya. Baginya, kuliah tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga opportunity, bahkan love. Setelah sesi inspiratif bersama Ferry, para penonton diberi waktu sejenak untuk beristirahat sebelum menuju ke agenda selanjutnya.

Usai jeda istirahat, acara dilanjutkan dengan sesi kedua yakni Entrepreneurs Talk bersama Yandy Laurens, seorang pembuat film dan sutradara dengan deretan karya yang sangat dikenal publik, seperti Sore: Istri Dari Masa Depan, 1 Kakak 7 Ponakan, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, dan Keluarga Cemara. Dalam sesi ini, Yandy membagikan pengalamannya dan prinsip yang selama ini ia pegang selama terjun dalam industri film di Indonesia. Ia membuka pembicaraan dengan refleksi sederhana bahwa menjadi seorang pembuat film bukan hanya tentang menciptakan sebuah tontonan yang laris, tetapi juga tentang bagaimana menjaga nilai kemanusiaan di setiap tahap produksinya. Baginya, film seharusnya bisa menjadi ruang dialog yang jujur antara pembuat film dan penonton.

Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan karya-karyanya yang dibuat selama ini tidak lepas dari proses kolaborasi yang sehat dan saling menghargai. Dalam tim produksinya bersama rumah produksi Cerita Film, Yandy menerapkan prinsip yang ia sebut sebagai “harga teman”. Bukan berarti memberi harga yang murah, justru menurutnya harga teman ialah membayar dengan harga yang paling layak. Menurutnya, menghargai rekan kerja bukan hanya sekadar memberi harga yang layak, tetapi juga soal menjaga kepercayaan melalui akuntabilitas dan konsistensi kerja, seperti tepat anggaran, hindari over budget, dan selalu transparan jika terdapat perubahan di luar rencana. Ia percaya bahwa film yang baik lahir dari suasana kerja yang baik pula. “Jadi, tujuannya untuk membuat film tapi tetap punya visi bahwa kita akan kolaborasi buat bersemi dan bermekaran bersama-sama, bukan transaksional,” kata Yandy.

Sesi Entrepreneurs Talk bersama Yandy Laurens © Panitia YES! 2025

Yandy juga menekankan bahwa etika adalah hal yang sangat penting di industri perfilman. Ia menyorot bagaimana film-filmnya mampu membuat penonton menangis, tetapi tim mereka memilih untuk tidak menggunakan hal tersebut sebagai bahan “jualan” karya mereka. Berbagai reaksi penonton adalah bukti bahwa cerita yang dibuat dengan hati mampu menyentuh sisi manusiawi seseorang dan disitulah rasa empati itu bekerja. Empati, bagi Yandy, adalah bahan bakar utama dalam cerita. Dengan karya yang didasari oleh rasa empati, sebuah cerita dapat membekas di hati penonton. “Film making adalah seni untuk memahami orang lain,” ujarnya sebagai penutup sesi itu.

Berbincang bersama Yandy Laurens menjadi sesi terakhir acara Entrepreneurs Talk pada malam itu. Sesi ini menutup rangkaian acara dengan penuh kehangatan. Antusiasme penonton sangat terlihat melalui berbagai macam insight yang disampaikan oleh narasumber. Mulai dari Ferry Irwandi yang menekankan soal membangun atensi publik melalui pengetahuan dan kreativitas digital hingga berlanjut dengan Yandy Laurens, yang berbicara soal bagaimana rasa empati menjadi dasar dalam menciptakan karya sinema yang bermakna, bukan sekadar hiburan semata.

Day 2: Berbagi Pengalaman, Memperluas Langkah di Dunia Bisnis

Rangkaian acara YES! 2025 berlanjut ke hari kedua, Sabtu (1/11), dengan menghadirkan acara yang selama ini menjadi ciri khas YES! dari tahun ke tahun, yakni Entrepreneurs Table. Kegiatan ini merupakan sesi eksklusif dalam bentuk jamuan makan yang menghadirkan kesempatan bagi peserta untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan para pelaku bisnis lokal berpengalaman.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh master of ceremony (MC) yang menandai dimulainya rangkaian acara. Setelah pembukaan, para tamu undangan diperkenalkan satu per satu dalam sesi Introduction VIP Guest. Mereka adalah para pemilik brand lokal yang sangat inspiratif, seperti By.Ody, Sate Ratu, Camilla La Mozzarella, PT Ekid Muda Berkarya, Shopinkae, Lab Art, Sofdoh, Coklat Impian, Yamie Panda, Taigersprung, Bloomery, Eastmountside, Bucini, dan Sender.

Selanjutnya, tibalah sesi Networking Dinner, para peserta dipersilakan berinteraksi secara  langsung dengan para pemilik usaha dalam suasana makan malam yang hangat dan intim. Momentum ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperkenalkan diri, bertukar pandangan seputar dunia bisnis, dan mengenal lebih dekat terkait perjalanan para pelaku usaha lokal. Acara berlanjut di sesi mingle, yang dibagi menjadi dua ronde dengan skema para pelaku usaha diarahkan untuk melakukan rotasi meja agar dapat melanjutkan diskusi dengan peserta lainnya. Sesi ini juga memastikan bahwa setiap peserta mendapatkan kesempatan bertukar perspektif dengan lebih lebih banyak pengusaha dan pemilik brand.

Salah satu peserta Entrepreneurs Table, Laila, membagikan pengalaman uniknya ketika mengikuti acara ini. Dari acara ini, ia mengaku mendapatkan banyak wawasan dan koneksi baru dengan para pengusaha. “Aku bertemu dengan Kak Nafi, owner Shopinkae. Di dinner itu aku bisa nanya langsung tentang perjalanan bisnis fashion, dari tips marketing sampai cara nemuin USP nya (Unique Selling Point),” ungkapnya.

Entrepreneurs Table tahun ini kembali menegaskan perannya sebagai wadah pembelajaran dan kolaborasi nyata. Melalui interaksi langsung dan percakapan mendalam, peserta tidak hanya mendapatkan wawasan berharga, tetapi juga koneksi strategis yang dapat memperluas langkah mereka di dunia bisnis. Dengan semangat sebagai The Catalyst of Change, para wirausahawan muda diharapkan terus bergerak, berani bermimpi, dan menciptakan dampak positif bagi ekonomi kreatif Indonesia.