Penulis: Kalyca Indira Theta & Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ
Editor: Handri Regina Putri/EQ
Layouter: Diana Sintya Maharani/EQ

Cekrek!” Bunyi kamera mengiringi kemeriahan Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning, Desa Tempilang, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Hari itu adalah minggu ketiga bulan Sya’ban, langit biru berpadu dengan riuh sorak warga yang saling melempar ketupat di tepi pantai—bukan karena pesta makan besar, tetapi karena Perang Ketupat sedang berlangsung. Setiap tahun, tradisi yang dikemas dalam Pesta Adat ini menjadi ajang yang dinanti ribuan orang ketika menjelang bulan suci Ramadhan.

Suasana Pesta Adat Perang Ketupat di Desa Tempilang. (© Tim Lawatan Sejarah SMAN 1 Pangkalpinang 2023)

Namun, di balik kemeriahan itu, muncul berbagai pandangan. Kini, Perang Ketupat kerap dilihat lebih sebagai festival hiburan ketimbang ritual sakral. Kehadiran ribuan penonton yang sekadar menikmati keramaian memunculkan kritik, terutama soal kemubaziran makanan yang kontradiktif dengan semangat bersyukur. Lantas, di manakah relevansi tradisi ini di masa kini? Masihkah ia mampu mempertahankan nilai-nilai luhur yang menjadi dasarnya?

Perayaan yang Mengakar dari Perlawanan

Berbeda dengan kemeriahannya kini, Perang Ketupat justru berakar dari tragedi penjajahan sekitar tahun 1800. Menurut Atok Keman, Pemangku Adat Desa Tempilang, tradisi ini bermula dari serangan lanun (bajak laut) yang didalangi Belanda, lalu mengakibatkan banyak korban jiwa. Sejarah mencatat dua versi, yaitu ada yang menyebut aksi melempar ketupat dimulai dari luapan kemarahan seorang anak yatim-piatu kepada para lanun, sementara versi lain menceritakan lemparan spontan saat warga sedang makan bersama. Terlepas dari perbedaan narasinya, esensi perlawanan dan duka yang melatarbelakangi tradisi ini tetap sama.

Sejak abad 19, tradisi ini dilestarikan untuk menghormati sejarah dan leluhur. Awalnya hanya berupa saling melempar ketupat antarwarga, namun seiring waktu prosesi ini berkembang dengan penambahan unsur-unsur baru. Dari jejak luka masa lalu, Perang Ketupat pun bertransformasi menjadi simbol rasa syukur masyarakat Tempilang atas keselamatan, persatuan, dan keberkahan yang mereka rayakan setiap tahun.

Rangkaian Sakral dan Makna Filosofis

Pelaksanaan Pesta Adat Perang Ketupat di Desa Tempilang memiliki ciri khas tersendiri dibanding tradisi serupa di daerah lain. Rangkaian acara dimulai pada malam beberapa hari sebelum hari pelaksanaan dengan upacara pemanggilan roh leluhur untuk meminta izin dan restu agar pesta adat dapat berlangsung dengan aman dan mendapat berkah. Pada hari pelaksanaan, tradisi ini mencakup lima prosesi utama: Penimbongan (memberi makan makhluk halus penjaga darat), Ngancak (memberi makan makhluk halus penjaga laut), Perang Ketupat, Ngayok Perae, dan Tebar Kampong. Dalam prosesi Penimbongan dan Ngancak, roh leluhur dipercaya turut hadir dan menyampaikan pesan melalui media yang dirasuki, sementara masyarakat menampilkan berbagai tarian tradisional seperti Campak, Serimbang, Kedidih, dan Seramao untuk menghormati mereka.

Prosesi Ngayok Perae. (© Tim Lawatan Sejarah SMAN 1 Pangkalpinang 2023)

Puncak acara adalah Perang Ketupat, di mana dua kubu (laut dan darat) saling melempar 50 ketupat dalam tiga babak yang melibatkan pemangku adat, tamu undangan, dan masyarakat umum. Setelah itu, prosesi Ngayok Perae dilakukan dengan menghanyutkan perahu kecil ke laut sebagai simbol menolak bala. Acara diakhiri dengan Tebar Kampong, yaitu menabur air dan bunga pinang di kampung (rumah-rumah) untuk membersihkan hal buruk, seperti tasak besek (penyakit kulit) dan buyung sumbang (perzinahan). Rangkaian prosesi ini menunjukkan kekayaan makna dan harapan warga Desa Tempilang. Namun, pemaknaannya kian bergeser seiring berkembangnya zaman.

Ironi Modern dalam Tradisi Perang Ketupat

Kritik terhadap Perang Ketupat muncul dari generasi muda yang hidup di tengah kesadaran modernitas dan keberlanjutan  pangan. Bagi Marsalindo (19), mahasiswa asal Bangka Selatan, tradisi ini ironis karena membuang makanan dengan sia-sia, sementara banyak orang masih kesulitan makan. Pandangan serupa disampaikan Dzaky (20), mahasiswa asal Pangkalpinang. "Sebenarnya belum tentu mubazir, tetapi seharusnya mereka bisa memikirkan alternatif supaya nggak buang-buang makanan," ujarnya. Sementara itu, Ridwan (20) yang berasal dari daerah yang sama dengan Dzaky tidak menolak tradisi ini, hanya saja ia mengaku tidak lagi memahami relevansi dan nilai-nilai yang dibawanya.

Pandangan ini menunjukkan bahwa Perang Ketupat yang semula merupakan simbol perjuangan dan rasa syukur masyarakat Tempilang, kini berada di persimpangan antara ritual sakral dan hiburan, di mana nilai-nilainya tidak lagi diterima mutlak tetapi dihadapkan pada tafsir baru. Menurut Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM), Elok Santi Jesica, S.Pd., M.A., pergeseran makna ini adalah proses alami masyarakat dalam mempertahankan dan merefleksikan kembali tradisinya di era kontemporer.

Tafsir Ulang Nilai: Relevansi dan Adaptasi Perang Ketupat

Elok menjelaskan bahwa kritik mubazir dari generasi muda justru berakar dari konsep food waste Barat pasca-Revolusi Industri, yang kemudian mempengaruhi persepsi terhadap tradisi lokal melalui globalisasi. Padahal, dalam konteks Perang Ketupat, tindakan ini tidak dimaknai sebagai “membuang” melainkan sebagai bentuk membagikan makanan kepada seluruh makhluk,  sebuah pandangan yang juga didukung oleh Atok Keman.

Di sisi lain, untuk bertahan di antara gempuran budaya populer, tradisi ini diharuskan mengadopsi logika pariwisata dengan lebih menonjolkan nilai hiburan dan festival. Elok juga mengingatkan bahwa adaptasi ini memang membuat tradisi tetap dikenali, tetapi berisiko mengikis nilai-nilai spiritualitasnya demi memenuhi kepentingan pariwisata dan budaya populer.

Elok menambahkan bahwa ironi modern juga terlihat dari pergeseran pelaku tradisi. "Dalam tradisi Perang Ketupat yang saya tonton di YouTube, justru peran ibu-ibu dan nelayan tidak terlihat," terangnya. Peran sentral nelayan dan ibu-ibu yang menjadi akar ritual sebagai simbol penjaga ekosistem dan penyaji hidangan, kini tergantikan oleh pejabat di panggung utama. Pergeseran ini membuat tradisi kehilangan koneksi dengan komunitas aslinya, sehingga nilai-nilainya terasa kabur bagi generasi muda dan makna sakralnya tertutup oleh kemasan festival.

Ritual Adat Sebelum Perang Ketupat. (© Tim Lawatan Sejarah SMAN 1 Pangkalpinang 2023)

Namun, persoalan utamanya bukan lagi pada perlu tidaknya adaptasi, tetapi pada cara melestarikannya tanpa tercabut dari akar. Di sinilah inovasi, edukasi, dan peran negara dibutuhkan. Sebagai solusi, Marsalindo mengusulkan modifikasi material, misalnya mengisi ketupat dengan bahan selain nasi untuk menghindari pemborosan, sementara Dzaky menawarkan jalan tengah dengan mengombinasikan ritual lempar ketupat dengan kegiatan makan bersama.

Mungkin, yang sesungguhnya "mubazir" bukanlah ketupat yang dilempar dan berceceran di tanah, melainkan ketika kita kehilangan kemampuan untuk membaca makna di balik warisan leluhur. Sebelum terburu-buru menghakimi dengan kacamata masa kini, ada martabat yang perlu dijaga dengan memahami sejarah yang membentuk suatu tradisi dan menghidupi komunitas yang setia melestarikannya.