Penulis: Hana Hafizhah/EQ, Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ
Editor: Gigih Candra Ghufroni/EQ
Layouter: Mahira Nurul Muthia/EQ
Dalam rangka memeriahkan bulan kemerdekaan, Sanggabiz bersama BPPM Equilibrium menyelenggarakan seminar berjudul “Kemerdekaan Perempuan: Bangkit, Berdaya, Berkarya” pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Acara ini berlangsung di Lantai 8 Gedung Learning Center (LC), Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung perempuan agar dapat memegang kendali hidupnya dan merdeka secara finansial.

Suasana hari-H seminar (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ)
Acara ini terbagi menjadi dua sesi materi: sesi pertama berjudul “Merdeka dari Rasa Tak Siap” dan sesi kedua berjudul “Merdeka Finansial di Tengah Ketidakpastian”. Sesi pertama dibuka dengan penayangan video tentang self comparison dari kanal YouTube Analisa Channel. Video ini menekankan kecenderungan seseorang dalam membandingkan diri sendiri dengan orang lain di berbagai aspek. Awalnya, sesi ini dijadwalkan untuk menghadirkan Analisa Widyaningrum, psikolog sekaligus pemilik Analisa Personality Development Center. Namun, beliau belum bisa hadir sehingga perannya digantikan dengan pemutaran video tersebut.

Pembukaan oleh Master of Ceremony (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ)
Setelah pemutaran video, sesi pertama dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Co-founder Titik Temu, Sakti Mutiara, dengan judul "Merdeka dari Rasa Tak Siap". Dalam paparannya, Sakti menekankan pentingnya kemerdekaan bagi perempuan agar mereka dapat berkarya dengan tenang, tanpa merasa tertekan. Menurutnya, berkarya adalah cerminan dari kesehatan mental seorang perempuan sekaligus cara untuk meninggalkan jejak berupa warisan yang menjadikan hidup lebih bermakna dan abadi. “Dengan berkarya, kita menciptakan warisan yang membuat usia kita lebih panjang dari usia yang sebenarnya,” ujar Sakti.
Setelah pemaparan materi terkait pentingnya kemerdekaan perempuan, Sakti melanjutkan dengan membahas indikator utama kesehatan mental menurut World Health Organization (WHO). Indikator tersebut mencakup empat hal, yakni mampu mengatasi stres, belajar dan bekerja dengan baik, bermanfaat bagi komunitas, serta memahami potensi diri. Selain pemaparan materi, sesi ini juga dilengkapi dengan aktivitas pengisian worksheet sebagai praktik langsung agar peserta dapat mengelola diri menjadi lebih baik.
Usai pemaparan materi, sesi pertama ditutup dengan tanya jawab. Salah satu peserta kemudian menanyakan bagaimana cara seorang ibu membagi waktu, terutama bagi yang bekerja atau ingin membuka usaha tambahan sambil mengurus rumah tangga. Sakti menilai pertanyaan tersebut sangat relevan karena perempuan kerap dibebani stereotipe masyarakat, misalnya perempuan dianggap hanya perlu fokus pada urusan rumah tangga. Hal ini tampak dari pertanyaan yang sering dilontarkan untuk ibu pekerja, seperti siapa yang mengurus anak mereka atau mengapa tetap bekerja meski suaminya sudah berpenghasilan. Pada dasarnya, para ibu hanya membutuhkan dukungan agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari. “Mereka membawa banyak stereotipe, maka sokongan dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan,” tegas Sakti.

Penyampaian pertanyaan dalam sesi diskusi (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ)
Setelah penutupan sesi pertama, peserta menjalani ISHOMA (istirahat, solat, dan makan) selama 30 menit sebelum acara berlanjut ke sesi kedua. Sesi ini diawali dengan pemaparan materi oleh Dwi Andi Rohmatika sebagai CEO sekaligus pendiri Sanggabiz dengan judul “Merdeka Finansial di Tengah Ketidakpastian”. Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan finansial bukan berarti menjadi kaya raya, melainkan mempunyai aset yang bisa memenuhi kebutuhan tanpa perlu menukar waktu dengan uang. Aset ini tidak hanya berbentuk moneter layaknya saham dan investasi, tetapi juga berupa aset non-moneter yang muncul dari kecerdasan dominan. “Kecerdasan-kecerdasan itulah yang menjadi cara kita mendapat banyak aset tambahan,” terangnya.
Dwi menjelaskan terdapat sembilan kecerdasan dominan, yaitu linguistik, matematis, spasial, kinestetik, musikal, intrapersonal, interpersonal, naturalistik, dan eksistensial. Setiap pribadi diyakini memiliki satu sampai tiga kecerdasan dominan yang dapat menjadi bekal membangun aset. “Misal jika kita cerdas interpersonal, bisa coba bikin video affiliate. Komitmen dan optimalkan bidang yang ada, jangan langsung lari mau coba ke yang lain. Video itu akan jadi aset non-moneter kita karena lewat satu video saja kita sudah bisa menghasilkan,” paparnya. Dalam sesi ini, peserta juga diajak mengisi worksheet untuk brainstorming ide penghasilan tambahan melalui kecerdasan dominan. “Sebagai ibu-ibu, jangan khawatir dan minder kalau tidak tahu keuangan. Dengan sembilan intelegensi tadi, kita jadi punya aset moneter dan non-moneter yang membantu kita meraih kemerdekaan finansial,” tutupnya.
Sebelum sesi dua berakhir, peserta diberi kesempatan bertanya. Seorang peserta menanyakan tentang teknik terbaik menyeimbangkan pekerjaan dengan kecerdasan dominan. Ia menceritakan pengalamannya sebagai koki yang bekerja seharian penuh, tetapi masih ingin menambah penghasilan lewat menulis, sesuai dengan minatnya. Tantangannya adalah ia memerlukan fokus penuh untuk menulis, sedangkan waktunya banyak tersita untuk pekerjaan. Menanggapi hal tersebut, Dwi menekankan bahwa jawabannya kembali pada pengorbanan waktu. “Mau tidak mau kita harus meluangkan waktu, misal setelah paginya bekerja, malam hari luangkan waktu sebentar untuk menulis,” tuturnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize yang menambah semarak suasana. Sesi ini menjadi penutup yang menyenangkan dari padatnya rangkaian acara. Para peserta tampak antusias menyambut momen tersebut. Tepat pada pukul 17.30 WIB, acara resmi ditutup.
Lebih dari sekadar rangkaian materi, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus pengingat akan makna merdeka. Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dalam mengelola diri dan keuangan, khususnya bagi perempuan. Harapannya, semangat yang lahir dari acara ini dapat terus menginspirasi perempuan untuk bangkit, berdaya, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.