Oleh: Zahra Dian dan Ary Suta
“Memulai menjadi sociopreneur itu dari empati, itu kata kuncinya,” ungkap Heru Wijayanto, Co-Founder dan Operation Manager dari SociopreneurID, yang menjadi salah satu pembicara dalam acara webinar insight session Indonesia Studentpreneur (IDEAS) pada hari Sabtu (20/3). IDEAS merupakan business plan competition yang menjadi salah satu rangkaian acara dari The 15th Management's Events dan diselenggarakan oleh mahasiswa Manajemen FEB UGM. Webinar yang membawakan topik ”Ekspektasi vs Realitas Sociopreneur” itu berhasil memberi gambaran dan insight kepada para peserta tahap proposal IDEAS tentang sociopreneur secara lebih mendalam. Sociopreneur sendiri merupakan gabungan dari kata social dan entrepreneurship, yakni kegiatan entrepreneurship yang menggabungkan isu bisnis dan sosial. Sociopreneurship lebih menekankan pada dampak sosial yang dihasilkan dengan tidak melupakan penghitungan profit yang didapat.
Acara dibuka oleh Angga Hernawan selaku MC dan dilanjutkan dengan sambutan dari Haikal Ahmad Raditya selaku ketua pelaksana dari The 15th Managements Event's. Webinar ini mengundang dua pembicara, yaitu: Heru Wijayanto, Co-Founder dan Operation Manager dari SocioprenerurID, dan Ray Rezky Ananda, Founder dan CEO Bantuternak. Webinar ini dipandu oleh Sarah Jessica, owner dari fudgee.co selaku moderator.
Ray Rezky Ananda, Founder dan CEO Bantuternak, mendapat kesempatan pertama untuk membagikan pengalamannya dalam webinar ini. Dengan motto hidup “change, grow, life” dan latar belakang pendidikan peternakan yang Ray miliki, ia berusaha untuk membantu peternak sapi dalam mendapatkan modal dan pendampingan ternak. Usaha ini ia lakukan melalui aplikasi Bantuternak atau platform yang mempertemukan investor dengan peternak sapi. Ide tersebut muncul saat ia terjun ke lapangan dan melihat banyak peternak sapi memiliki berbagai masalah, seperti perhitungan biaya ternak sapi yang kurang tepat. Di tengah obrolan, Ray menyampaikan bahwa di bidang sociopreneur kita harus mencari masalah yang menarik untuk diselesaikan, lalu melakukan pengecekan ulang di lapangan, dan kemudian melakukan mentoring untuk mencari solusi yang tepat dari masalah tersebut. Sedangkan dalam hal mengatasi ekspektasi vs realitas social entrepreneurship, ia memaparkan bahwa dalam kasusnya memang harus mengedepankan sisi sosial, tetapi sisi profit juga tetap harus diperhitungkan. Di akhir obrolan, ia juga sempat menyampaikan bahwa untuk terjun ke dalam dunia sociopreneurship, dapat dimulai dengan terjun ke dalam dunia entrepreneurship terlebih dahulu. Dengan begitu, ide untuk mengembangkan bisnis menjadi bentuk sociopreneurship akan didapat dengan lebih mudah.
Kemudian, webinar dilanjutkan oleh Heru Wijayanto, Co-Founder dan Operation Manager dari SociopreneurID. Perjalanan Heru di SociopreneurID bermula dari dirinya yang dikirim ke Indonesia Timur. Di sana, ia melihat secara langsung betapa rendahnya kualitas pendidikan yang ada. Rasa empatinya pun muncul karena kesadaran atas ketimpangan sosial Indonesia Barat dan Indonesia Timur yang begitu nyata. “Terjun langsung itu penting. Misal saya ingin bantu peternak, tetapi saya tidak pernah terjun langsung, pasti saya akan bingung,” jelas Heru. Banyak dari masyarakat yang memiliki rasa empati tinggi tapi tidak melakukan tindakan nyata untuk mengubah keadaan yang terjadi. Oleh sebab itu, ia memikirkan cara agar dapat memberikan kebermanfaatan untuk negerinya sendiri. Sampai akhirnya, ia membentuk SociopreneurID yang bukan berfokus pada produk, tetapi pada perubahan yang terjadi di masyarakat. Heru menentukan arah dari bisnisnya dengan tidak langsung menargetkan pada sesuatu yang besar. Ia menargetkan pada masalah-masalah sederhana terlebih dahulu sehingga bisnisnya bisa berjalan secara bertahap. Tahun lalu, SociopreneurID berkolaborasi dengan dosen dan mahasiswa untuk membuat bahan ajar anak SD berupa video edukasi. Untuk rencana ke depannya, SociopreneurID akan berkolaborasi dengan instansi di bidang bisnis, pemerintahan, dan sosial.
Webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara kedua pembicara dengan peserta. Kedua pembicara menjelaskan bahwa harus ada kesesuaian antara ide dan kondisi lapangan agar didapatkan hasil yang memuaskan. Sering kali pebisnis pemula terlalu mengutamakan ekspektasinya, sampai tidak melihat realitas sebenarnya, sehingga banyak yang gagal mengatasi masalah yang terjadi dan idenya tidak dapat diaplikasikan. Tetap membuka telinga untuk memenuhi permintaan konsumen adalah kewajiban sebuah bisnis agar dapat berkembang.
Sociopreneur di Indonesia akan memiliki pasar baik di masa depan apabila kita melihat kultur masyarakat yang memiliki rasa empati tinggi. Visi dan misi sebuah bisnis harus dikuatkan terlebih dahulu sebelum memikirkan pembiayaannya sebab investor akan tertarik pada bisnis yang memiliki tujuan jelas. Sebuah bisnis yang baik tidak hanya memikirkan profit yang didapatkan, tetapi juga harus memikirkan dampak sosial yang mungkin terjadi. Jika keduanya seimbang, pasti bisnis tersebut akan memiliki nilai lebih di mata masyarakat.
Webinar ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh Sarah Jessica selaku moderator. Cukup banyak pengetahuan yang dipaparkan secara jelas oleh kedua pembicara, terlebih pada tata cara penyusunan konsep bisnis yang kuat serta berbagai kendala pengaplikasian ide secara teknis. Selain itu, kedua pembicara menjelaskan bahwa perbedaan ekspektasi dan realitas perjalanan sebuah bisnis yang cukup signifikan harus siap untuk dihadapi oleh pebisnis pemula. Pembicara juga memaparkan poin penting awal perjalanan seorang Sociopreneur adalah keinginan untuk menciptakan perubahan terhadap lingkungan sekitar. Terakhir, moderator menyimpulkan pula ungkapan dari para pembicara bahwa sebuah bisnis tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar.