Penulis: Orie Priscylla Mapeda/EQ
Editor: Gigih Candra/EQ
Layouter: Vidhyazputri Belva/EQ

Setelah wafatnya Paus Fransiskus, kardinal dari berbagai penjuru dunia bergegas ke Vatikan untuk melaksanakan conclave, proses pemilihan Paus yang dilakukan secara tertutup dan penuh kekhidmatan. Conclave tahun 2025 berlangsung cukup singkat, hanya dua hari, dari tanggal 7 hingga 8 Mei 2025.

Proses yang sakral ini dihadiri oleh para Kardinal Elektor, termasuk Kardinal Ignatius Suharyo dari Indonesia, yang turut ambil bagian dalam pengambilan keputusan penting bagi umat Katolik sedunia. Setelah melalui serangkaian pemungutan suara yang dilakukan dalam suasana tertutup di Kapel Sistina, hasil akhirnya diumumkan kepada dunia pada 8 Mei 2025, Kardinal Jorge Mario Bergoglio dari Amerika terpilih sebagai Paus yang baru. Beliau memilih nama Paus Leo XIV sebagai nama kepausannya. Uniknya, beliau adalah orang pertama yang menjadi paus, dalam

Namun, Apa yang dimaksud dengan conclave? Mari kita bahas sekilas.

Apa Itu Conclave?

Kata conclave berasal dari bahasa Latin cum clave yang berarti “dengan kunci”. Istilah ini merujuk pada pertemuan tertutup dan rahasia Dewan Kardinal Gereja Katolik Roma untuk memilih Paus baru, yakni pemimpin tertinggi umat Katolik di seluruh dunia. Conclave merupakan metode historis tertua dalam memilih kepala negara yang masih digunakan hingga saat ini.

Linimasa Jalannya Conclave

Setelah seorang Paus wafat atau mengundurkan diri, para kardinal dari seluruh dunia berkumpul di Vatikan. Proses dimulai dengan Misa khusus, yang disebut Pro Eligendo Romano Pontifice (untuk pemilihan Paus Roma). Misa ini menjadi momen doa, memohon bimbingan Roh Kudus agar pemilihan berjalan dengan bijaksana.

Usai misa, para kardinal mengenakan jubah merah di atas tunik renda putih, kemudian berjalan dari Pauline Chapel menuju Sistine Chapel, tempat berlangsungnya pemungutan suara. Mereka berjalan dengan diiringi Veni Creator, nyanyian Litani Para Kudus yang menyerukan doa dan bimbingan Roh Kudus.

Setibanya di Sistine Chapel, setiap kardinal mengucapkan sumpah di hadapan altar, meletakkan tangan di atas Kitab Suci. Mereka berjanji untuk menjaga kerahasiaan mutlak mengenai jalannya pemilihan dan isi pembicaraan dalam conclave.

Setelah semua kardinal memasuki ruangan, Master of Papal Liturgical Ceremonies akan mengatakan “Extra omnes!” yang berarti “Semua keluar!”. Semua pihak non-kardinal wajib meninggalkan kapel, dan pintu Sistine Chapel akan dikunci untuk menandai dimulainya proses pemilihan yang sepenuhnya tertutup.

Para kardinal duduk di kursi khusus yang ditempatkan di sekitar meja-meja kecil berhias satin. Di dalam ruangan tersebut ada altar yang di depannya terdapat guci perak di depan altar sebagai tempat menaruh surat suara. Setiap kardinal menulis nama kandidat pilihannya pada surat suara bertuliskan Eligo in summum pontificem (Saya memilih sebagai Paus Tertinggi).

Terdapat dua tungku yang digunakan untuk membakar surat suara. Jika tungku mengeluarkan asap hitam, maknanya belum ada Paus yang terpilih. Namun, jika tungku mengeluarkan asap putih, maknanya seorang Paus terlah terpilih. Untuk menghindari kebingungan, lonceng Basilika Santo Petrus turut dibunyikan bersamaan dengan munculnya asap putih.

Para Kardinal yang mengikuti conclave, atau yang disebut Kardinal Elektor akan melakukan dua kali pemilihan, yakni pada pagi hari dan di sore hari. Jika dalam beberapa kali putaran belum ada Paus baru yang terpilih, maka para Kardinal Elektor diberikan kesempatan untuk berdoa dan berdiskusi sebelum kembali melakukan pemilihan. Ketika salah satu kandidat memperoleh dua pertiga suara, kardinal senior bertanya apakah ia bersedia menerima jabatan. Jika dijawab “Accepto” (Saya terima), kandidat dibawa ke Stanza delle Lacrime (Ruang Air Mata) untuk mengenakan jubah putih Paus dan memilih nama kepausan yang akan digunakan.

Setelah itu, Cardinal Proto-Deacon ke balkon Basilika Santo Petrus dan mengumumkan, “Annuntio vobis gaudium magnum. Habemus Papam!” yang artinya “Saya mengumumkan kepada Anda kabar suka cita besar. Kita memiliki Paus!”. Paus yang baru terpilih lalu muncul dan memberikan berkat apostolik Urbi et Orbi pertamanya.

Upacara pelantikan resmi Paus berlangsung beberapa hari kemudian. Dalam acara ini, Paus secara simbolis menerima tanggung jawab sebagai pemimpin Gereja Katolik sedunia, disaksikan oleh ribuan umat di Vatikan dan jutaan lainnya di seluruh dunia melalui media.

Proses conclave berlangsung dalam suasana ekhidmat dan misteri. Kerahasiaan menjadi prinsip utama, sehingga para kardinal dilarang keras mengungkapkan apa pun yang terjadi selama proses pemilihan. Tradisi dan tata cara yang dijaga selama berabad-abad ini menjadi simbol kuat dari kesinambungan dan kesakralan kepemimpinan dalam Gereja Katolik Roma.

Referensi

Media Indonesia. (2024, Mei 10). Conclave, proses sakral di pemilihan Paus yang sarat tradisi dan misteri. https://mediaindonesia.com/internasional/747103/conclave-proses-sakral-di-pemilihan-paus-yang-sarat-tradisi-dan-misteri

Detik.com. (2024, Mei 6). Apa itu conclave? Ini proses pemilihan Paus baru dan pihak yang memilihnya. https://www.detik.com/jateng/berita/d-7879164/apa-itu-conclave-ini-proses-pemilihan-paus-baru-dan-pihak-yang-memilihnya

Tempo.co. (2019, Agustus 5). Definisi conclave dan makna asap putih Kapel Sistina setelah Paus wafat. https://www.tempo.co/internasional/definisi-conclave-dan-makna-asap-putih-kapel-sistina-setelah-paus-wafat-1237630

iNews Serpong. (2024, Mei 8). Conclave adalah prosesi pemilihan Paus baru, kini dalam persiapan. https://serpong.inews.id/read/584988/conclave-adalah-prosesi-pemilihan-paus-baru-kini-dalam-persiapan

Kompas.com. (2025, April 29). Sejarah conclave, tradisi pemilihan Paus baru. https://www.kompas.com/stori/read/2025/04/29/180000879/sejarah-conclave-tradisi-pemilihan-paus-baru