Penulis: Najwa Anggi Namira/EQ dan Hana Hafizhah/EQ
Editor: Gigih Candra Ghufroni/EQ
Layouter: Gilang Wirabumi/EQ
Dentang gamelan mulai terdengar mantap. Ritme yang berulang tidak membuat penonton jenuh. Sebaliknya, ritme itu justru membuat mereka menanti-nanti babak penuh adrenalin. Di tengah lingkaran penonton yang berdesakan, para penari muncul satu per satu mengenakan kostum warna-warni sambil membawa kuda lumping di tangan. Mereka mulai menari dengan cepat, tubuhnya bergoyang lincah mengikuti gemuruh gong yang mengatur tempo. Wangi dupa mulai mengudara, beberapa penari mulai menunjukan tanda-tanda kesurupan. Akhirnya, seorang pawang datang, menaburkan kembang dan membaca mantra untuk menyembuhkan mereka. Jathilan bukan sekadar tontonan, melainkan kisah yang hidup dalam denyut kebudayaan Jawa.
Seni yang Lahir dari Bumi
Sebagai salah satu genre kesenian tari tradisional Jawa, Jathilan sering dipersepsikan sebagai hiburan rakyat kelas bawah. Jathilan lahir dan tumbuh di tengah masyarakat desa yang komunal, jauh dari kemegahan seni klasik keraton seperti tarian bedhaya yang lekat pada pakem. Di mata sebagian orang, Jathilan dianggap kasar hingga bar-bar karena menampilkan adegan kesurupan (ndadi), seperti memakan kaca, berjalan di atas api, atau bergelantungan di tiang panggung tempat mereka menari. Hal inilah yang membuat Jathilan kerap dikaitkan dengan unsur-unsur mistis dan klenik.
Dengan perpaduan unsur tari, musik, dan ritual, pertunjukan Jathilan sebenarnya menggambarkan kisah keprajuritan dengan menggunakan properti kuda lumping atau jaran kepang, yakni kuda tiruan dari anyaman bambu. Musik pengiringnya terdiri dari beberapa instrumen gamelan seperti kendhang, gong, angklung, dan kecer yang dimainkan secara berulang untuk membangun suasana trance. Pada masa lalu, Jathilan memiliki fungsi ritual dan religius, yakni sebagai sarana persembahan kepada roh leluhur dan penjaga desa dalam acara bersih-bersih desa atau sering disebut merti desa. Kini, fungsi itu meluas menjadi media hiburan rakyat dengan tetap menjaga makna spiritualnya. Bagi para pemain dan masyarakat pendukungnya, Jathilan masih dianggap sebagai media untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan dunia ghaib.
Kala Irama Mengambil Alih Kesadaran
Salah satu penari Jathilan, Tuty, membagikan kisah dan pengalamannya sebagai penari yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak remaja pada tahun 2016. Baginya, Jathilan bukan sekadar hiburan atau rutinitas seni, melainkan juga sebagai ruang melepas penat dan mengisi batin. “Kalau kumpul (bersama teman-teman pemain Jathilan), capek hilang. Rasanya kayak pulang ke rumah,” ungkapnya.
Tuty merupakan anggota sanggar Sandya Kencana di Wonosari, Gunung Kidul. Sanggar tersebut menaungi berbagai jenis tari, sementara khusus untuk kesenian Jathilan, kegiatan dikelola dalam sebuah perkumpulan yang disebut paguyuban. Di dalam paguyuban, struktur organisasi diatur secara rapi mulai dari ketua, sekretaris, bendahara, sampai keamanan. Tidak lupa, terdapat pula pawang atau sesepuh yang memiliki peran penting di paguyuban. “Pawang itu seperti orang tua yang berperan kayak dukun, jadi bukan sembarang orang karena dia yang akan melakukan ritual. Setiap paguyuban pasti punya pawang sendiri,” jelasnya saat diwawancarai oleh tim Redaksi EQ.
Jathilan lekat dengan adegan kesurupan (ndadi) yang selama ini menjadi ciri khasnya. Ketika ditanya mengenai fenomena ndadi, Tuty mengaku bahwa pengalaman itu menjadi bukti atas sakralnya dari pertunjukan Jathilan. Ia mengungkapkan bahwa ketika ndadi, dirinya merasa seperti tidak sadarkan diri, layaknya terhipnotis. “Kalau orang ndadi akan kerasa kosong (jiwanya) terus mungkin akan dimasukin pepunden (arwah) nenek moyang atau penjaga di daerah situ. Ndadi itu gak ada rasanya, tapi setelah diobati (sadar) terasa kayak habis dipukulin,” katanya. Ketika para pemain sedang ndadi, di sinilah peran pawang bekerja. Pawang akan melakukan ritual khusus lengkap dengan taburan bunga, dupa, serta sesajen lalu kemudian ia akan ‘menyembuhkan’ para pemain yang kesurupan.
Jathilan di Tengah Arus Modernisasi
Dalam pusaran modernisasi dan gemerlap arus tren dari luar negeri, Jathilan bertransformasi menuju bentuk barunya yang lebih lincah dan berani untuk tetap adaptif. Menurut Tuty, Jathilan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan tarian tradisional lainnya yang cenderung memiliki aturan gerak yang tetap. Dalam Jathilan, gerakan yang ditampilkan boleh berbeda-beda di setiap pertunjukan. “Jathilan tetap punya pakem, tapi lebih dominan ke kreasi,” terang Tuty. “Itu yang bikin Jathilan beda dari seni tradisional lain dan tetap banyak yang nonton sampe sekarang,” tambahnya.
Kreasi yang ditampilkan dalam Jathilan biasanya mengikuti tren yang sedang hangat. Misal, terdapat gerakan yang sedang viral, maka gerakan itu dapat dimasukkan ke dalam koreografi Jathilan. Kreasi yang dimaksud pun tak hanya terbatas pada koreografinya. Jathilan turut berkolaborasi dengan aransemen lagu yang sedang populer sebagai musik pengiringnya, misalnya lagu-lagu remix. Tuty mengaku jika ia lebih menyukai Jathilan yang sekarang. “Kalau zaman dulu, kan, masih model klasik jadi cuma diiringi dari gamelan. Semakin tambah tahun, semakin banyak kreasi yang ada, jadi lebih suka yang sekarang,” papar Tuty.
Namun, tidak semua kelompok Jathilan mengikuti arus modernisasi tersebut. Salah satunya adalah sanggar Jathilan asal Magelang yang kini menjadi idola baru kaum muda, yakni Garuda Wisnu Satria Muda (GWSM). Berbeda dengan Jathilan modern yang menyajikan tarian dengan kreasi gerakan dan musik-musik viral, Jathilan yang ditampilkan GWSM masih mengikuti pakem tradisional. Lagu-lagu yang mengiringi penampilannya merupakan lagu-lagu jawa yang ditemani alunan musik gamelan. Begitu pula dengan gerakan tariannya yang tidak memasukkan koreografi gerakan yang sedang viral.
Menariknya, meskipun tetap berpegang pada pakem tradisional, GWSM justru berhasil menarik banyak perhatian publik. Akun TikTok resmi milik GWSM kini telah diikuti sekitar 2,8 juta pengguna dengan total likes kurang lebih 70 juta. Tak hanya ramai di media sosial, sanggar GWSM setiap harinya ramai didatangi para penggemar yang ingin berfoto bersama atau meminta tanda tangan. “Tamu yang paling jauh pernah dari Papua, Kalimantan, Sumatra, Bali. Kalau dari Jawa kayaknya semua daerah sudah pernah datang,” jelas Yoyok, Ketua GWSM, melalui TikTok Pandangan Jogja. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya Jathilan masih diminati masyarakat, terlepas dari adanya kreasi atau tidak. GWSM berhasil memanfaatkan media dan membangun basis penggemar untuk melestarikan budaya tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi dengan cara yang fleksibel.
Pada akhirnya, Jathilan menjadi perwujudan kesenian yang egaliter dan komunal. Ia menjadi wadah para senimannya untuk berekspresi dan berkreasi tanpa kehilangan jati diri budayanya. Kemampuan Jathilan untuk beradaptasi terhadap arus modernisasi, baik melalui sisipan unsur-unsur kreatif maupun penyebaran melalui media digital, membuatnya terasa lebih segar dan dekat dengan penonton masa kini. Ia menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan dinikmati tanpa dibatasi durasi.