Penulis: Dahayu Anindhita Aisyfaa, Shaffa Az Zahra, Maria Cira Fedora Nahuway/EQ
Editor: Handri Regina/EQ
Layouter: Dhimas Zidny A./EQ

Di tengah riuh rendah lini masa media sosial, sering kali kita menemukan fenomena yang kontras. Di detik pertama, kita disuguhi berita yang memancing amarah: kebobrokan pejabat publik, polemik penggunaan anggaran yang tidak transparan, hingga pengesahan undang-undang kontroversial yang dikebut demi kepentingan elite. Namun, sesaat kemudian, kita bisa terbahak-bahak melihat video kompilasi kucing gemas atau meme yang mengundang tawa. Inilah wajah humor di era digital, sebuah respons jenaka terhadap realitas yang menyakitkan.

Paradoks tersebut menimbulkan pertanyaan: mengapa kita tetap tertawa di tengah keadaan yang pelik? Fenomena ini tentu bukan sekadar lelucon, melainkan sebuah bentuk perlawanan batin yang mendalam. Ketika masyarakat terjepit tekanan hidup yang kian mencekik, tawa tidak lagi menjadi simbol kebahagiaan. Meme, terutama dalam bentuk meme, telah melampaui fungsi hiburan receh pengisi waktu luang. Ia bertransformasi menjadi mekanisme pertahanan mental (coping mechanism)—upaya terakhir agar kewarasan tetap terjaga.

Ketika Meme Menjadi Cara Bertahan

Jika melihat ke belakang, pergeseran fungsi humor mencapai puncaknya pada saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika dunia terkurung dalam ketidakpastian dan manusia dipaksa menarik diri dari keramaian, ruang digital menjadi satu-satunya tempat untuk berkumpul dan berinteraksi. Hal ini didukung oleh studi Flecha Ortiz et al. (2021), “Analysis of the use of memes as an exponent of collective coping during COVID-19 in Puerto Rico” yang menyoroti bahwa meme tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi berperan sebagai mekanisme koping kolektif (collective coping mechanism).

Dalam konteks ini, meme berperan dalam menormalkan kecemasan sosial yang dirasakan masyarakat kala itu. Meme mengubah ketakutan yang semula hanya dirasakan secara individu menjadi beban kolektif yang lebih ringan untuk dipikul. Melalui lelucon yang tersebar di media sosial, tercipta ruang yang menegaskan bahwa penderitaan yang dialami bukan untuk ditanggung sendiri.

Di Balik Tawa: Humor sebagai Mekanisme Koping

Untuk lebih memahami efektivitas tertawa dalam menghadapi ketidakstabilan emosi, kita perlu menelaah konsep coping mechanism yang digagas oleh Lazarus dan Folkman (1984). Sebagaimana dikutip dalam studi Siti Maryam berjudul “Strategi Coping: Teori Dan Sumberdayanya [sic!],” koping didefinisikan sebagai transaksi atau upaya kognitif dan perilaku individu untuk mengatasi tuntutan (baik internal maupun eksternal) yang dirasa membebani.

Efektivitas humor sebagai strategi koping dapat dijelaskan melalui eksperimen psikologi klasik, yaitu teori umpan balik wajah (facial feedback hypothesis). Teori yang berakar dari pemikiran Charles Darwin dan William James ini menyatakan bahwa ekspresi wajah bukan sekadar cerminan emosi, tetapi juga dapat memengaruhi dan membentuk pengalaman emosional itu sendiri.

Relevansi teori ini tampak dalam sebuah eksperimen Fritz Strack et al. (1988) saat partisipan diminta untuk menjepit pena di antara gigi hingga membentuk ekspresi menyerupai senyuman. Hasilnya, individu yang "dipaksa" tersenyum karena posisi pena cenderung merasakan emosi yang lebih positif dibandingkan mereka yang diarahkan untuk cemberut. Eksperimen ini memberikan dasar ilmiah bagaimana meme berperan sebagai stimulus sederhana yang mampu mengaktifkan respons fisiologis positif dan membantu mengatur ulang kondisi emosional menjadi lebih stabil, meski masalah utamanya belum terselesaikan.

Hasil eksperimen itu juga sejalan dengan pengalaman Nadin (20), mahasiswa Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM). “Ketika pusing dengan beban akademik dan sedang sedih atau marah, aku sulit memetakan langkah untuk problem-focused coping. Kadang aku lihat meme dulu; seketika emosiku berubah sesaat mulai tertawa. Seiring itu pun, muncul sedikit motivasi yang mendorongku untuk fokus dalam menyelesaikan masalah.” Pengakuan Nadin menegaskan bahwa humor sebagai emotion-focused coping berfungsi mengubah perspektif dan meringankan beban emosional, alih-alih menyelesaikan masalah secara langsung.

Paradoks Meme: Antara Penawar atau Pembunuh

Meskipun demikian, meme sebagai mekanisme koping ibarat dua sisi koin. Di satu sisi menjadi penawar, tetapi di sisi lain dapat membawa dampak negatif jika digunakan berlebihan. Menurut Patterson (2024), penggunaan meme secara ekstensif dapat menyebabkan emotional avoidance, yakni kecenderungan untuk mengesampingkan rasa tidak nyaman dengan mendistraksi diri pada sesuatu yang lebih mudah kita tangani.

Lebih lanjut, meme yang terkesan meremehkan persoalan serius dapat membuat kita tanpa sadar mengabaikan penderitaan orang lain. Patterson menyatakan bahwa paparan berulang terhadap konten yang negatif, sekali pun dalam bungkus lelucon, dapat menumpulkan kepekaan kita terhadap masalah yang ditertawakan. Sebagai contoh, meme yang menjadikan gangguan mental sebagai bahan canda tidak hanya menormalisasi stigma, tetapi juga berpotensi menyakiti perasaan para penyintas yang merasa diejek dan tidak diterima.

Oleh sebab itu, diperlukan kebijaksanaan dalam menyikapi meme. Nadin menekankan bahwa agar penggunaan meme tetap tergolong sehat, masalah utamanya tidak boleh terlalu lama diabaikan. “Misalnya saat stres akademik, aku tidak melulu cari video meme untuk menaikkan hormon dopamin di otak aku, tapi harus stay focused to solve the problem, tugas harus tetep dikerjain, nggak cuma diketawain,” ujarnya.

Dimensi Sosial dan Makna Tawa

Mengutip kembali pernyataan Nadin terkait emotional-focused coping, meme sebagai pengalih rasa cemas menjadi pembahasan yang menarik. Humor yang didapatkan dari meme menjadi “jalan keluar” atau soft resistance dari kecemasan berkepanjangan yang dihasilkan dari keanehan dunia modern.

Dukungan yang melandasi hal ini datang dari penelitian Sakai (2022) di Belfast, Irlandia Utara. Studi tersebut menunjukkan bagaimana humor yang merujuk pada diri sendiri (self-referential humor) membantu masyarakat menavigasi realitas sosial yang kompleks. Meski terlihat aneh, tindakan ini memungkinkan seseorang mengakui masalah yang pelik tanpa harus meresponsnya dengan serius. Melalui mekanisme itulah mereka dapat berbagi pemahaman yang sama, memungkinkan untuk menolak absurditas yang dihadapi saat ini.

Terjadinya fenomena ini juga dapat menjadi gejala awal kelelahan sosial (social fatigue) di generasi muda, yang merespons tekanan dengan cara serupa. Ketika ketidakpastian dunia semakin bertambah, mereka mulai beradaptasi dengan humor untuk meredam perasaan asing dan gelisah. Metaforanya, seperti berlayar di lautan yang mengombang-ambing. Dengan begitu, humor menjadi alat navigasi sekaligus perekat yang menciptakan rasa saling memiliki, sebuah bentuk ketahanan kolektif di tengah dunia yang tak menentu.

Sejatinya, humor memberikan kesenangan dan kebahagiaan bagi seseorang. Tak heran jika humor sering digunakan sebagai perisai psikologis—mekanisme seseorang untuk melindungi diri sendiri dari stres, emosi negatif, dan ancaman. Oleh karena itu, sebaiknya meme dikonsumsi secara bijak dalam menjaga esensinya untuk memberi canda-tawa di hidup kita.

Referensi:

Fleming, J. H. (2024). Facial feedback hypothesis. EBSCO Research Starters. Retrieved November 23, 2025, from https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/facial-feedback-hypothesis

Maryam, S. (2017). Strategi coping: teori dan sumberdayanya. JURKAM Jurnal Konseling Andi Matappa, 101–107. https://doi.org/10.31100/jurkam.v1i2.12

Ortiz, J. a. F., Corrada, M. a. S., Lopez, E., & Dones, V. (2020). Analysis of the use of memes as an exponent of collective coping during COVID-19 in Puerto Rico. Media International Australia, 178(1), 168–181. https://doi.org/10.1177/1329878x20966379

Patterson, L. (2024). Why Meme Culture Might Be Hurting Your Mental Health Without You Realising It. medium. Retrieved November 22, 2025, from https://medium.com/@liam.patterson/why-meme-culture-might-be-hurting-your-mental-health-without-you-realising-it-1dfd588a47d6

Sakai, T. (2022). Humour and the Plurality of Everyday Life. Social Anthropology/Anthropologie sociale. https://doi.org/10.3167/saas.2022.050402.

Strack, F., Martin, L. L., & Stepper, S. (1988). Inhibiting and facilitating conditions of the human smile: A nonobtrusive test of the facial feedback hypothesis. Journal of Personality and Social Psychology, 54(5), 768–777. https://doi.org/10.1037/0022-3514.54.5.768