Penulis: Arwa Izdihar A. /EQ
Editor: Gigih Candra G. /EQ
Layouter: Raaniya Kinasih A. /EQ

Aku menatap etalase kaca yang memisahkan ragaku dari jajaran wadah gelato. Warna-warni natural itu begitu memanjakan netraku. Rasanya menyenangkan bisa menyambangi toko kudapan kesukaanku setelah sekian lama menghabiskan uang untuk keperluan lain.

“Kakakmu ini lho, masa sukanya gelato rasa serai dan kemangi!”
Ribuan kali aku mendengar ibuku mengomentari seleraku dalam memilih rasa gelato. Bukankah seharusnya beliau sudah terbiasa melihatku menggenggam wafer berbentuk kerucut berisi dua rasa itu?

Bukankah menarik mendapatkan perspektif baru atas daun kemangi yang biasa menjadi lalapan saat makan pecel lele? Bahwa ternyata kemangi yang rasanya segar dan sedikit pahit itu dapat menyajikan rasa yang sungguh unik layaknya mint ketika diolah dalam sebuah menu kudapan.

Bukankah menyenangkan berpikir bagaimana suatu olahan dapat mengubah stigma serai yang terkesan tradisional? Sebelumnya, ia dikenal sebagai bahan penyedap rasa atau bahan minuman tradisional dari Jawa karena serai identik dengan kehangatan.

Ini bukan kali pertama aku membelinya. Aneh, mungkin tidak lagi menjadi kata yang tepat. Kini, indera perasaku telah familiar dengan rasa lembut dari serai yang bercampur dengan susu serta rasa segar dari kemangi. Kalau saja ada yang menyadarinya, aku tak pernah lagi penasaran dengan rasa lain—sejak aku berkenalan dengan serai dan kemangi. Belasan rasa yang ada di dalam konter tak lagi ada harga dirinya di hadapanku.

Lagipula, sesuatu yang dulunya terkesan aneh, tanpa sadar menyatu seiring waktu. Sesuatu yang baru itu pun dipilih lagi dan lagi. Menciptakan ruang nyaman tersendiri yang mengikat diri pada suatu keyakinan atas sebuah kepastian rasa.

Semakin bertambahnya usia, aku tak lagi tertarik mencoba-coba rasa yang ada di dalam konter. Aku cenderung memilih sesuatu yang pasti — sesuatu yang aku suka. Pikirku, mungkin aku takut pada rasa yang belum tentu sejalan dengan harapanku. Belum lagi harus memikirkan uang yang susah payah kusimpan, rasanya seperti membuatnya hilang sia-sia. Maka, pilihan yang paling kecil risikonya adalah bertahan pada rasa yang telah kupahami.

Mungkin karena alasan ini juga, sebagian orang menginginkan sesuatu yang pasti. Sesuatu yang bisa diperkirakan dan tidak terlalu meleset dari kenyataan. Mereka ingin rasa dan hasil yang jelas, agar proses yang dijalani tidak terasa sia-sia. Sebab mereka tau, waktu yang terbuang tidak akan terulang. Apa yang sudah dilakukan tidak bisa ditarik kembali.

Begitu pula uang yang telah dibelikan gelato dengan rasa yang tak sesuai harapan, ia tak akan kembali begitu saja. Sebab, sesuatu yang hilang tak akan kembali secara instan. Semua hal yang salah hanya bisa disesali. Oleh karena itulah mereka akhirnya menjadi lebih berhati-hati dalam membuat keputusan.