Penulis: Dwi Zhafirah Meiliani, Auliatus Soliha/EQ
Editor: Gigih Candra/EQ
Layouter: Vini Wang/EQ

Di balik lemari yang penuh pakaian, tak sedikit wanita tetap membeli pakaian baru dengan harga murah. Membeli pakaian baru seolah telah menjadi kebutuhan kompleks bagi wanita untuk mengekspresikan dirinya. Dengan membeli pakaian baru, wanita dapat mengekspresikan diri dan menyampaikan perasaan mereka.

Awalnya, belanja pakaian bukanlah aktivitas rutin dan hanya dilakukan beberapa kali dalam setahun, seperti saat pergantian musim atau ketika pakaian lama telah usang. Seiring waktu, industri pakaian semakin berkembang pesat dan mendorong banyak perusahaan untuk memilih negara berkembang sebagai tempat produksi karena upah tenaga kerja yang lebih rendah. Akibatnya, harga pakaian menjadi lebih murah dan belanja pun menjadi rutinitas bagi banyak orang, terutama wanita. Perubahan tren inilah yang mendorong pertumbuhan industri fast fashion.

Fast fashion adalah kondisi ketika dunia fashion memproduksi pakaian dengan cepat, tetapi juga cepat terganti karena tren fashion yang terus berubah. Industri ini menghadirkan produk trendi dengan menawarkan harga yang murah. Namun, harga tersebut menyembunyikan biaya lain yang tak kasat mata, yaitu biaya sosial. Biaya sosial ini berupa dampak buruk yang tidak dirasakan langsung oleh konsumen, tetapi ditanggung oleh orang lain atau alam.

Meskipun kehadiran fast fashion disambut antusias oleh banyak wanita, industri ini juga menyisakan tangisan bagi wanita lain. Clean Clothes Campaign (2022) melaporkan bahwa lebih dari 80% tenaga kerja industri ini adalah wanita yang berasal dari negara-negara berkembang. Mereka mendapat upah yang tidak layak, dipaksa untuk menerima tekanan produksi yang ekstrem, dan sering menerima pelecehan verbal. Ironisnya, meski wanita adalah konsumen utama fast fashion, industri ini justru tidak memberdayakan wanita lain.

Fenomena tersebut terlihat jelas pada industri garmen di Bangladesh yang berkontribusi besar terhadap perekonomiannya. Siddiqi (2025) menyebut bahwa Bangladesh merupakan salah satu negara dengan upah terendah di dunia, yaitu sekitar $113 yang jauh di bawah perkiraan kebutuhan kehidupan layak sebesar $460 per bulan. Hal ini tercermin pada pekerja wanita di industri garmen yang memiliki upah rendah dengan jam kerja yang panjang. Tak hanya itu, diskriminasi terhadap pekerja juga masih sering terjadi, khususnya terhadap pekerja wanita. Kondisi ini tercermin dari besarnya kontrol yang dimiliki pekerja laki-laki dibandingkan pekerja wanita. Selain itu, pekerja wanita juga kerap mengalami risiko kekerasan seksual karena mereka dipandang sebagai kelompok yang patuh dan mudah dikendalikan oleh perusahaan (Akter et al., 2024). Meskipun Bangladesh Labour Act telah diterapkan pada tahun 2006, kebijakan ini tidak sepenuhnya melindungi para pekerja di industri tersebut.

Selain menimbulkan dampak sosial terhadap pekerja wanita, industri garmen juga turut menyumbang degradasi lingkungan. Dampak yang diberikan tidak hanya muncul saat pakaian diproduksi atau dibuang, tetapi juga dimulai sejak tahap awal, yaitu saat bahan baku tekstil diproduksi. Baik serat alami maupun serat sintetis menghasilkan limbah dalam proses pembuatannya. Salah satu contoh serat sintetis yang paling banyak digunakan adalah poliester. Berdasarkan laporan The Wilderness Society (2021), proses ekstraksi minyak bumi untuk berbagai keperluan industri, termasuk pembangunan dan pengeboran, berkontribusi langsung terhadap kerusakan habitat alami. Poliester yang berasal dari proses ekstraksi minyak bumi tidak hanya menghasilkan emisi karbon selama proses pembuatannya, tetapi juga menghasilkan limbah mikroplastik.

Sementara itu, kapas yang kerap dianggap sebagai bahan alami pun tidak sepenuhnya ramah lingkungan. Air limbah dari kapas mengandung cairan pestisida kadar tinggi yang dapat mencemari ekosistem sekitar. Dengan demikian, permasalahan lingkungan akibat fast fashion tidak hanya disebabkan oleh satu jenis bahan saja, tetapi juga skala produksi yang masif mengejar keuntungan tanpa mempertimbangankan efek keberlanjutan.

Bagaimana Kita Berkontribusi Mengurangi Efek Fast Fashion?

Salah satu daya tarik utama fast fashion adalah harga yang ramah di kantong dan mudah diakses oleh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mendorong pola pikir konsumen untuk beralih ke alternatif yang lebih berkelanjutan. Hal ini dapat dilakukan dengan membeli barang bekas, memanfaatkan pakaian yang sudah ada dengan modifikasi sederhana, dan mengikuti kegiatan tukar pakaian. Meskipun terlihat sederhana, perubahan kebiasaan seperti ini dapat memberikan dampak yang signifikan apabila diterapkan oleh semua orang. Partisipasi aktif dari pelaku industri dan pemerintah juga menjadi hal penting untuk memastikan bahwa fashion berkelanjutan mudah diakses oleh masyarakat.

Referensi

Akter et al. (2024). Gender-Based Violence and Harassment in Bangladesh’s Ready-Made Garments (RMG) Industry: Exploring Workplace Well-Being Issues in Policy and Practice. Sustainability, Vol. 16, No.5. http://dx.doi.org/10.3390/su16052132

Arief, M. N. (2025, April 28). MAHASISWA BERSUARA: Wajah Tersembunyi Fast Fashion yang Mengeksploitasi Bumi dan Buruh Perempuan. BandungBergerak.id. Retrieved June 25, 2025, from https://bandungbergerak.id/article/detail/1599110/mahasiswa-bersuara-wajah-tersembunyi-fast-fashion-yang-mengeksploitasi-bumi-dan-buruh-perempuan

McKinsey. (2025, January 23). What is fast fashion and why is it a problem? McKinsey. Retrieved June 25, 2025, from https://www.mckinsey.com/featured-insights/mckinsey-explainers/what-is-fast-fashion

Rauturier, S. (2025, February 26). What Is Fast Fashion and Why Is It So Bad? Good On You. Retrieved June 25, 2025, from https://goodonyou.eco/what-is-fast-fashion/

Siddiqi, Di. M. (2025). What’s happening in Bangladesh’s garment industry? - Economics Observatory. Economics Observatory. https://economicsobservatory.com/whats-happening-in-bangladeshs-garment-industry

The Wilderness Society. (2019). 7 ways oil and gas drilling is bad for the environment | The Wilderness Society. https://www.wilderness.org/articles/blog/7-ways-oil-and-gas-drilling-bad-environment#