Penulis: Theresa Martha .M& Raissa .M/EQ
Editor: Najwah Ariella Putri/EQ
Layouter: Vidhyazputri Belva/EQ

Debus adalah pertunjukan tradisional Banten yang menampilkan aksi ekstrem, mulai dari menyakiti diri dengan benda tajam hingga api, tanpa menimbulkan luka. Penonton pun terpukau sekaligus heran, bagaimana tubuh manusia bisa menahan rasa sakit tersebut? Rasa penasaran inilah yang kemudian mendorong analisis lebih mendalam terhadap debus, terutama dari sisi nilai budaya dan spiritualitasnya.

Untuk mengetahui hal tersebut, kita dapat menguliknya melalui konsep iceberg theory, yang merupakan sebuah pendekatan dalam penulisan cerita yang diciptakan oleh Ernest Hemingway. Teori ini membagi garis besar cerita menjadi dua lapisan utama, yaitu lapisan di atas permukaan yang terlihat, eksplisit, dan dangkal; serta lapisan di bawah permukaan yang tersembunyi, implisit, dan sarat makna. Meskipun merupakan teori penulisan, iceberg theory ini juga relevan dalam menganalisis budaya Debus karena pertunjukan yang kini kita lihat hanyalah puncak yang menutupi sistem keyakinan yang lebih besar dan tersembunyi di bawahnya.

Lapisan Tengah: Debus sebagai Perekat Identitas Kolektif

Beralih dari lapisan atas pertunjukan yang hanya berupa penampilan, kita kini turun lebih dalam ke lapisan tengah, yaitu ketika Debus berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sosial dan sarat akan nilai budaya. Menurut penelitian Noviyanti Widyasari (2014), Debus sejak lama berfungsi sebagai “pembawa nilai” bagi masyarakat Banten. Budaya ini menjadi ruang tempat warga belajar tentang gotong royong, kedisiplinan, dan rasa kebersamaan, sebab latihan Debus tidak pernah dilakukan sendirian. Selalu ada guru, sesepuh, dan anggota yang saling mengarahkan dan menjaga. Dari pola ini, nilai solidaritas masyarakat Banten pun muncul ketika orang belajar bekerja sama, saling membantu, dan menghormati struktur komunitas.

Yang menarik, fungsi sosial Debus tetap bertahan karena diwariskan dari generasi ke generasi melalui keluarga, komunitas lokal, dan kelompok pemuda. Di era modern, Debus memang menghadapi tantangan karena generasi muda kini lebih akrab dengan internet dibandingkan tradisi lokal, namun kenyataan itu tidak cukup untuk menggeser eksistensinya. Bagi masyarakat Banten, Debus bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari identitas dan kebanggaan kolektif. Selama ia dipandang sebagai simbol “jiwa Banten”, tradisi ini akan terus menemukan cara untuk bertahan di tengah gempuran modernitas.

Lapisan Dalam: Landasan Keyakinan Penggerak Debus

Setelah mengupas lapisan sosial budaya, kini kita menyelam lebih jauh ke inti terdalam dari gunung es yaitu dimensi spiritualitas. Pada lapisan ini, Debus tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga cermin bagi zaman yang mulai kehilangan ketahanan batin. Dalam dunia yang menolak rasa sakit dan menginginkan segalanya serba instan, Debus mengingatkan bahwa kekuatan sejati manusia tidak lahir dari tubuh yang kebal, melainkan dari jiwa yang berserah. Drs. Farid, S.Ag., M.Hum., dosen Filsafat Agama Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa kesakralan tidak bergantung pada bentuk luar, melainkan pada niat serta pengalaman batin yang dijalani. “Sakralitas muncul ketika suatu praktik benar benar dihayati,” tekannya.

Debus mempertemukan spiritualitas Islam, budaya lokal, dan tradisi pengendalian diri melalui puasa, wirid, dan zikir yang menyiapkan batin untuk menghadapi rasa takut maupun rasa sakit. Praktik ini memuat tiga nilai utama yaitu kepasrahan kepada Yang Ilahi (menyerahkan sepenuhnya hasil dan perlindungan hanya kepada Tuhan), disiplin spiritual (ketaatan pada serangkaian ritual dan pantangan yang membentuk karakter), serta transformasi diri melalui penderitaan (mencapai keteguhan batin yang lebih tinggi dengan menanggapi rasa sakit fisik). Nilai nilai ini menjadikan Debus bukan hanya sekedar latihan fisik, tetapi jalan untuk membangun keteguhan iman.

Karena itu, kekebalan tubuh dalam Debus menjadi simbol bahwa iman tidak mudah dilumpuhkan oleh godaan zaman termasuk konsumerisme dan hilangnya arah spiritual. “Makna Debus bisa bertahan jika kita geser fokusnya dari atraksi fisik ke nilai nilai batiniah,” ujarnya. Pada akhirnya, nilai kepasrahan, kedisiplinan, dan kekuatan spiritual inilah yang menjaga Debus tetap hidup di tengah dunia modern.

Kesimpulan: Membingkai Kembali Persepsi terhadap Debus

Dengan menggunakan teori gunung es, kita dapat mengetahui bahwa Debus bukan hanya sekadar tontonan fisik (lapisan atas), melainkan juga berisi inti nilai dan keyakinan yang memuat sejarah, identitas kolektif, dan spiritualitas (lapisan dalam). Oleh karena itu, Debus, secara hakikatnya, bukan hanya tentang keberanian fisik, tetapi juga cerminan holistik dari hubungan manusia dengan komunitasnya (lapisan tengah) dan keyakinannya (lapisan dalam), serta dengan warisan intergenerasi yang terus dijaga hingga sekarang. Namun, dalam kedalamannya itulah Debus menemukan makna aslinya. Sebab, apa yang dianggap di luar nalar oleh kebanyakan orang, justru bisa jadi bentuk yang paling murni dari suatu keyakinan.

Referensi

Wawancara tertulis dengan Drs. Farid, S.Ag., M.Hum., Dosen Filsafat Agama.

Arif, M. (2023). Debus Banten in between myth, belief and culture. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/371650457_Debus_Banten_In_Between_Myth_Belief_And_Culture/citations

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2019). Kesenian tradisional debus. Repositori Kemendikdasmen. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/13322/1/Kesenian%20tradisional%20debus.pdf

Kusdinar, B. (2014). Seni beladiri debus Banten sebagai kesenian beladiri yang unik [Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta]. Repositori UIN Jakarta. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/27357/1/IIS%20SULASTRI-FDK.pdf

Mihalik, B. (2017, April 24). The iceberg theory. MyPSPA. https://www.mypspa.org/article/more/the-iceberg-theory

On the Cobblestone Road. (2020, March 10). Iceberg. https://onthecobblestoneroad.com/iceberg/

Septian, A. H. (2012). Kesenian tradisional debus [Karya ilmiah, Universitas Pendidikan Indonesia]. Repositori UPI. https://repository.upi.edu/6683/

Sopyan, A. (2022). Mistik dan kearifan lokal dalam seni beladiri debus di Banten. Hidayah: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2(2). https://ejournal.aripafi.or.id/index.php/Hidayah/article/view/960