Penulis: Hana Hafizhah & Auliatus Soliha/EQ
Editor: Handri Regina Putri/EQ
Layouter: Vini Wang/EQ

Benarkah polarisasi politik yang terjadi di media sosial disebabkan oleh algoritma? Atau, sesungguhnya kitalah yang perlahan mengajarinya untuk memilah siapa kawan dan siapa lawan?

Algoritma media sosial pada dasarnya adalah mesin rekomendasi yang objektif. Ia tidak dibangun untuk pilih kasih terhadap suatu aliansi karena ia tidak memiliki nilai politik. Algoritma hanya mengamati setiap gerakan kecil. Gerakan itu berupa bubuhan likes pada konten yang diam-diam kita minati, komentar mana yang membuat kita turut berdiskusi, serta konten apa yang membuat kita bertahan lebih lama sebelum bergulir. Melalui setiap rekam, algoritma membangun pola guna memprediksi jenis konten yang paling mungkin membuat pengguna bertahan lebih lama di layar.

Tak dipungkiri bahwa algoritma mengambil peran besar dalam menyajikan konten-konten yang ada di media sosial. Namun, perlu diingat bahwa algoritma hanya bekerja dengan memantulkan kembali apa yang menjadi kebiasaan dan minat penggunanya. Jika tidak dibarengi dengan literasi yang tinggi, pengguna rawan terjebak dalam lingkaran informasi yang semakin sempit.

Gen Z: Paling Dominan, Paling Rawan

Sebanyak 97,9% dari 47 responden dalam sebuah survei tergolong dalam Generasi Z (Gen Z). Dalam konteks ini, Nurul Aini, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM), menyatakan bahwa Gen Z merupakan generasi yang paling aktif, paling aktif, adaptif, dan relatif melek digital. Tak heran, merekalah konsumen sekaligus produsen opini politik paling intens di dunia daring dibanding generasi lain. “Potensi mereka luar biasa besar untuk menjadi penggerak demokrasi digital,” papar Nurul.

Namun, potensi besar ini berbanding lurus dengan kerentanannya. Nurul menjelaskan bahwa kerentanan itu berasal dari kesenjangan dalam literasi digital. Walaupun memegang gawai yang serupa, cara Gen Z menanggapi dan menggunakan media sosial begitu beragam. Masih banyak dari mereka yang malah menjadi penyebar hoaks, bagian dari penyubur ekosistem buzzer, atau produsen konten kebencian. Menurut Nurul, penguatan literasi digital mutlak diperlukan untuk mengurangi kesenjangan dan menjadikan Gen Z sebagai penggerak demokrasi tanpa terjerumus misinformasi untuk memperlemah polarisasi.

TikTok dan Instagram: Dua Mesin Personalisasi Paling Perkasa

TikTok (44,7%) dan Instagram (40,4%) menjadi media sosial yang paling banyak digunakan oleh responden. Awalnya, Instagram menjadi platform pertemanan yang menghubungkan orang-orang yang saling terkoneksi di dunia nyata. Namun, seiring waktu, platform ini bergeser menjadi media konten layaknya TikTok. Pergeseran ini mendorong perubahan fundamental pada karakter algoritmanya, yang kini seluruhnya digerakkan oleh sistem engagement. “Ketika sebuah konten lebih banyak ditonton, maka potensi jangkauan algoritma ke pengguna lain lebih besar,” terang Nurul.

Akibatnya, proses pembentukan opini publik tak lagi berangkat dari dialog atau perdebatan, tetapi dari repetisi dan tingginya engagement pada jenis konten tertentu. “Maka dari itu, pembuatan konten yang sehat menjadi urgensi karena apa yang muncul di for your page (FYP) belum tentu benar dan bisa saja buzzer atau bahkan menyesatkan,” papar Nurul. “Tidak hanya pengguna yang perlu literasi, content creator juga perlu literasi,” tambahnya.

“Bahan Bakar” Algoritma

Sebagian besar responden (63,8%) mengaku bahwa mereka lebih banyak melakukan like, sisanya hanya repost atau sekadar menonton tanpa interaksi. Yang menarik, seluruh responden sepakat bahwa interaksi mereka memengaruhi konten di beranda. Hal ini berpotensi mempersempit diversitas informasi yang diterima pengguna. “Jadi memang harus memperluas tema pencarian kita agar tidak terjebak gelembung informasi yang sama,” terang Nurul.

Dengan kata lain, algoritma tidak menjadi pelaku utama yang menutup akses. Pola interaksi pengguna yang terlalu homogen turut andil dalam menciptakan beranda yang sama. Dampaknya, variasi pandangan semakin menurun dan potensi polarisasi kian meningkat.

Beranda Pengguna Memihak Opini Publik

Data berikutnya menunjukkan bahwa konten politik menjadi salah satu sajian yang sering terlihat di beranda pengguna (63,8%). Sayangnya, konten yang mendominasi bukanlah berita faktual, melainkan opini publik (36,2%) yang menyebar jauh lebih cepat. Tentu, hal ini terjadi karena opini cenderung lebih mudah dicerna, menyentuh emosi, hingga memancing respons spontan.

Sejalan dengan pemaparan Nurul, opini publik bisa “menang” karena engagement-nya lebih tinggi. Algoritma kemudian membaca gelombang interaksi sebagai sinyal dan terus memperkuat arusnya. Akibatnya, isu politik yang ramai belum tentu yang paling penting, melainkan yang paling sering disentuh oleh pengguna. Lambat laun, framing persoalan politik pun bergeser mengikuti ritme interaksi massal. Tak heran, pengguna  pada akhirnya akan melihat politik bukan dari kacamata yang berimbang, tetapi melalui arus opini yang secara perlahan membentuk pandangan politik mereka.

Selera Pengguna Merangkai Beranda Media Sosial

Fenomena ini semakin diperkuat oleh data yang memperlihatkan bagaimana pengguna memersepsikan informasi politik di media sosial. Data menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan pengguna terhadap konten politik sangat tinggi. Sebanyak 85,1% merasa bahwa informasi politik yang mereka temui di beranda dapat dipercaya, meskipun hanya 53,2% yang rutin melakukan verifikasi. Kondisi ini menunjukkan mayoritas pengguna menerima informasi politik begitu saja tanpa sikap kritis. Konsistensi ini semakin kuat, di mana lebih dari separuh responden mengakui pandangan politik mereka sejalan dengan konten yang disajikan algoritma.

Nurul mengingatkan, “Internet adalah ruang yang bisa kita manfaatkan untuk mencari banyak hal, tetapi algoritma kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita cari atau minati.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa munculnya informasi yang seragam di beranda bukan semata kesalahan algoritma, tetapi juga dipicu oleh kepercayaan buta pengguna.

Kombinasi antara algoritma yang bekerja secara selektif ditambah dengan kepercayaan pengguna yang begitu besar membuat ruang digital menjadi tempat yang nyaman untuk memperkuat pandangan politik yang sudah ada. Dalam banyak situasi, algoritma bahkan bisa membentuk atau mengubah pandangan politik pengguna.

“Zona Nyaman” Beranda Pengguna Menyulam Polarisasi

Fenomena munculnya informasi yang itu-itu saja tentunya berkaitan erat dengan proses terbentuknya polarisasi di media sosial. Data menunjukkan bahwa 91,5% pengguna merasa media sosial membuat masyarakat semakin terpecah secara politik. Namun, Nurul menegaskan bahwa algoritma bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Algoritma hanya memperkuat sinyal yang diberikan pengguna, yang berarti sumber masalah polarisasi pada dasarnya berawal dari perilaku pengguna itu sendiri.

Rapuhnya budaya diskusi juga turut memperkuat polarisasi tersebut. Meski 63,8% pengguna berusaha mencari penjelasan saat menemukan pandangan politik yang berbeda, hampir 30% lainnya justru memilih mengabaikan, memblokirnya, atau merespons dengan konfrontatif. Ketika perbedaan ini lebih sering dihindari daripada dipahami, algoritma akan membaca pola ini sebagai preferensi dan semakin mempersempit paparan informasi di beranda.

Pada akhirnya, polarisasi tercipta bukan semata oleh algoritma, melainkan juga oleh kecenderungan pengguna membangun "zona nyaman" yang hanya berisi pandangan sejalan. Wajar apabila algoritma dinilai sebagai pemicu polarisasi, karena algoritma seperti pihak yang mempersempit variasi informasi, padahal pengguna sendiri lah yang menciptakan isi beranda mereka.

Dominasi Buzzer di Beranda Memperkuat Polarisasi

Selain pola interaksi pengguna, keberadaan aktor nonorganik seperti buzzer turut mendominasi informasi tertentu beranda pengguna. Nurul menjelaskan bahwa Buzzer memproduksi narasi secara masif dan algoritma kemudian memperbaikinya karena melihat tingginya interaksi yang tercipta. Akibatnya, konten politik yang muncul tidak sepenuhnya lahir dari percakapan alami pengguna, melainkan dari hasil produksi terstruktur yang sengaja didesain untuk mendominasi beranda.

Pengguna dengan literasi digital terbatas kerap kali menganggap konten buzzer sebagai representasi kebenaran, tanpa menyadari bahwa dominasinya didorong oleh strategi distribusi, bukan kualitas informasi. Akibatnya, algoritma semakin menguatkan pola yang sudah terbentuk, sehingga konten yang berulang kian mendominasi, sedangkan informasi yang lebih beragam tenggelam. Pada akhirnya, siklus ini memperkuat polarisasi dengan mengurung pengguna dalam satu arus informasi yang sempit.

Jawaban Selalu Kembali ke Pengguna Media Sosial

Saat beranda dipenuhi oleh konten berbasis preferensi pengguna, bahkan sebagian bersifat nonorganik, pertanyaan awal tulisan ini kembali menguak. Apakah polarisasi politik yang terlihat di media sosial benar-benar digerakkan oleh algoritma, atau sesungguhnya oleh kebiasaan pengguna itu sendiri?

Berdasarkan pemaparan di atas, keduanya saling membentuk: algoritma bekerja dari pola interaksi pengguna, sedangkan pengguna merespons apa yang disajikan algoritma. Hubungan simbiosis ini memperjelas bahwa polarisasi tidak hanya disebabkan oleh algoritma, tetapi terutama oleh pola atau preferensi yang terus diulang oleh penggunanya dan diperkuat oleh mesin rekomendasi.

Oleh karena pola ini, diperlukan solusi yang berasal dari pengguna itu sendiri. Menurut Nurul, literasi digital menjadi kunci untuk menjaga beranda tetap sehat. Pengguna harus memperluas topik pencarian, membuka ruang bagi sudut pandang lain, dan selalu memeriksa ulang sumber informasi. Sementara itu, content creator dituntut untuk menjaga keargonikan informasi. Pada akhirnya, pengguna lah yang menentukan apakah algoritma menjadi alat untuk memperluas ruang diskusi atau justru memperkuat polarisasi.