Penulis: Gita Laksita Jatismara, Azhar Zaidaan/EQ

Editor: Alif Fazel Faruk/EQ

Layouter: Vini Wang/EQ

Di dalam Jantung Penjaga Peradaban Kebudayaan, Keraton Ngayogyakarta, tersimpan warisan sejarah yang sarat nilai kehidupan, Bedhaya Semang. Bedhaya Semang merupakan tarian sakral yang merupakan bukti dokumentasi eksistensi perjalanan panjang keraton sebagai pencipta peradaban karya. Warisan sejarah nonbenda ini merefleksikan lapisan makna filosofis nilai-nilai kebudayaan Jawa.

Status agung Bedhaya Semang memunculkan sebuah pertanyaan menarik. Mengapa mahakarya ini justru terkubur dalam arsip Keraton Yogyakarta dan tidak dipentaskan selama satu abad? Bagaimana makna filosofisnya? Artikel ini mengajak pembaca untuk menyelami lebih dalam Bedhaya Semang.

Makna, Fungsi, dan Sejarah

Bedhaya Semang memiliki arti yang mendalam ditinjau dari kata penyusunnya. Secara etimologi, Bedhaya Semang berasal dari kata “Bedhaya” yang berarti penari wanita di keraton dan “Semang” berarti khawatir atau ragu. Kata “Semang” sendiri merujuk pada sebuah kepercayaan yang diabadikan ke dalam nitik babad berupa kisah keraguan yang menyelimuti hati Sultan Agung terhadap Ratu Kidul ketika menerima persembahan tariannya.

Dalam penyajiannya, Bedhaya Semang mengandung fungsi yang substansial. Pertama, Bedhaya Semang berfungsi sebagai bagian dari upacara sakral yang ada di keraton, khususnya saat Miyos Dalem yaitu hari kelahiran sultan. Kedua, simbol legitimasi kekuasaan, Bedhaya Semang diperagakan saat upacara kenaikan tahta sebagai pengukuhan kekuasaan sultan atau lazim disebut acara Jumenengan Dalem. Terakhir, di luar konteks upacara, Bedhaya Semang juga memiliki fungsi filosofis yang mengajarkan keselarasan hidup manusia, baik dengan sesama manusia, alam sekitar, maupun Tuhan.

Tari Bedhaya Semang mengalami serangkaian perjalanan sejarah panjang dalam keberadaannya. Dari lahirnya yang berakar dari mitos, tertidur menghilang dari mata publik, hingga berhasil bertahan di era modern ini. Tari Bedhaya Semang ini diperkenalkan dan ditetapkan sebagai pusaka oleh Sultan Hamengku Buwono II pada tahun 1792 pasca Kesultanan Mataram runtuh (Iqrimah, 2024). Bedhaya Semang menceritakan kisah cinta Nyi Roro Kidul dan Sultan Agung yang mengaitkan tahta Jawa dengan Sang Ratu Kidul.

Tarian yang berjumlah 9 orang ini menjadi induk dari tari Bedhaya yang berkembang di Keraton Kasultanan Yogyakarta dari berbagai macam bentuk tari Bedhaya (Pramutomo & Sriyadi, 2025). Namun, memasuki abad ke-20, setelah ditetapkan sebagai induk dari semua tari bedhaya di Keraton Yogyakarta, Bedhaya Semang justru tidak lagi ditarikan. Status yang teramat sakral ini membuatnya tak lagi dipentaskan sebagai penanda masuknya ke periode vakum. Oleh karena itu, selama hampir satu abad, Bedhaya Semang hanya eksis sebagai sebuah pusaka yang terekam dan tersimpan di dalam naskah kuno.

Sakralitas Angka Sembilan Tari Bedhaya Semang

Tari Bedhaya Semang mengandung makna yang sangat bernilai dalam setiap aspeknya. Seluruh gerakan, formasi, kriteria penari, dan musik pengiring memiliki cerita serta nilai filosofis yang melatarbelakanginya. Tarian yang sangat disakralkan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini merupakan aktualisasi kembali cerita hubungan mistis antara Raja Mataram Islam (keturunan Panembahan Senopati) dengan Kanjeng Ratu Kidul (penguasa Laut Selatan) (Kundha Kabudayan DIY, 2014). Secara lebih lanjut, Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Yogyakarta menjelaskan makna filosofis angka 9 dalam Tari Bedhaya Semang dalam tulisan berikut.

Selain dalam konteks pemikiran metafisika dan kepercayaan orang Jawa, angka sembilan dalam Tari Bedhaya Semang menyiratkan arti yang sangat fundamental. Sesuai aturan, tarian ini ditarikan oleh sembilan orang penyandang status abdi dalem Bedhaya. Kesembilan jumlah tersebut mengandung beberapa versi nilai filosofis.

Pertama, nilai manusia sebagai entitas yang terhubung dengan alam semesta, 9 melambangkan arah mata angin serta kedudukan berbagai bintang atau refleksi atas keutuhan kosmos. Kedua, asosiasi kelengkapan struktur tubuh manusia, 9 melambangkan satu hati, satu kepala, satu leher, dua lengan, satu dada, dua tungkai, dan satu organ seks. Ketiga, nilai sumber hawa nafsu manusia (bebadan hawa sanga dalam bahasa jawa), 9 menyimbolkan sepasang lubang hidung, sepasang lubang mata, sepasang lubang telinga, satu lubang kemaluan, satu lubang mulut, dan satu lubang dubur.

Nilai filosofis kedua tersebut turut direpresentasikan ke dalam peran seluruh sembilan penari. Peran tersebut memiliki nama sesuai bagian tubuhnya dalam bahasa jawa yaitu batak (akal pikiran dalam manusia), endhel (nafsu yang berasal dari hati), dhada (dada), jangga (leher), apit ngajeng (lengan kanan), apit wingking (lengan kiri), endhel wedalan ngajeng (tungkai kanan), endhel wedalan wingking (tungkai kiri), dan buntil (organ manusia). Dalam formasinya, inti tarian ini adalah representasi konflik batin yang ditunjukkan dengan “peperangan” simbolis melalui posisi jengkang antara akal (batak) pikiran dan hawa nafsu keinginan (endhel).

Rekonstruksi Tari Bedhaya Semang Sebagai Wujud Pelestarian

Satu pertanyaan masih ada di benak kita semua, bagaimana cara Bedhaya Semang mendapatkan resurjensi? Kunci pada pertanyaan ini muncul dari sebuah tokoh bernama Theresia Suharti. Sebelumnya, beliau merupakan seorang dosen di Institut Seni Indonesia dan merupakan peraih gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2012. Beliau mendapatkan gelarnya dari disertasi mengenai Bedhaya Semang. Saat ini, beliau adalah seorang Abdi Dalem dengan nama Nyi K.R.T Pujaningsih.

Sekarang, bagaimanakah keberhasilan beliau merekonstruksi ulang Bedhaya Semang dari hibernasi satu abad ini? Melalui studi tekstual dan kontekstual jawabannya. Proses rekonstruksi diawali dengan memperjelas notasi gending, koreografi, sampai mengintegrasikan nilai ritual agar kesakralan tetap terjaga. Melalui penelitian naskah-naskah tarian Bedhaya Semang yang terserak dan berumur, Dr. Theresia Suharti menghadapi tantangan besar karena banyak simbol sakral sulit dipahami oleh generasi modern. Walaupun menghadapi kendala tersebut, beliau berhasil merekonstruksi tarian ini karena kesabaran dan ketelitian.

Refleksi atas Kembalinya Pusaka Budaya

Perjalanan panjang Bedhaya Semang adalah sebuah narasi luar biasa tentang sebuah pusaka agung yang nyaris hilang terkunci selama satu abad di balik tembok Keraton Ngayogyakarta. Kini, kita telah mengetahui kedalaman makna, sejarah, dan tingginya sakralitas tarian ini sebagai induk dari seluruh tari Bedhaya. Dengan pemahaman ini, kerja keras Dr. Theresia Suharti untuk mengembalikan pusaka ini patut untuk diapresiasi dengan seberapa monumental reaktualisasi ini.

Kisah Bedhaya Semang ini memberikan perasaan suka duka bagi kami sebagai penulis, maupun pembaca, pemerhati budaya, dan lainnya. Tentu, kita patut bersyukur atas kembali hidupnya sebuah relik penting kebudayaan di masyarakat sebagai bagian dari identitas bangsa. Kebudayaan merupakan potongan dari sejarah identitas kita, hilangnya mereka menandakan kehilangan yang tragis bagi manusia. Namun, kisah keberhasilan rekonstruksi mengingatkan kepada kita bahwa banyak kebudayaan dan kesenian yang tidak tidak berhasil bangkit maupun mendapatkan perlakuan seperti Bedhaya Semang. Kita sendiri hanya dapat membayangkan seberapa banyak budaya manusia yang hilang ditelan waktu. Oleh karena itu, kita kembali lagi harus bersyukur dan melestarikan kebudayaan leluhur agar dapat terus mendampingi kehidupan kita setiap harinya.

Referensi

Ani Nur Iqrimah. (2024, May 30). Tari Bedhaya Semang, Kisah Hubungan Sultan Agung dan Ratu Kidul. Good News from Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/05/30/tari-bedhaya-semang-kisah-hubungan-sultan-agung-dan-ratu-kidul

Kundha Kabudayan DIY. (2014, March 4). Tari Bedhaya. Budaya.jogjaprov.go.id. https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/284-tari-bedhaya

R.M. Pramutomo, & Sriyadi . (2025). Transformation Bedhaya Dance in Java Society: Rituals, Ceremonials, Entertainment. Paramita Historical Studies Journal, 35(1). https://doi.org/10.15294/paramita.v35i1.4820