Penulis: Cindra Karunia dan Raditya Isnanda/EQ

Ilustrasi Oleh: Haris Nur Rahmawati/EQ

Pada hakikatnya, manusia haus akan interaksi sosial. Filsuf Yunani legendaris, Aristoteles, dalam salah satu bukunya yang berjudul Politics mengemukakan bahwa manusia adalah zoon politicon atau hewan yang bermasyarakat. Manusia secara alami akan hidup bermasyarakat dan melakukan interaksi dengan manusia lain untuk mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. Akan tetapi, pandemi yang terjadi seolah mengurung dan membatasi semua orang dalam berinteraksi. Kehidupan pertemanan dan percintaan yang semula mulus akhirnya sampai pada titik jenuh karena kurangnya interaksi secara langsung.

Aplikasi kencan online atau online dating app menjadi salah satu dari banyaknya solusi yang ditawarkan. Sejumlah aplikasi kencan online mengalami peningkatan jumlah pengguna di masa pandemi. Salah satu aplikasi kencan online, Tinder, mencatat adanya peningkatan hingga 61 persen dari biasanya pada April 2020. Dari data tersebut, ternyata mayoritas pengguna Tinder merupakan Generasi Z dengan usia kurang dari 26 tahun. Artinya, Tinder sangat dekat dengan mahasiswa dan pekerja yang baru lulus kuliah.

Salah satu pengguna berbagai aplikasi kencan online adalah Tony (nama samaran), seorang mahasiswa jurusan Geografi. Mulai dari Tinder, Bumble, hingga OkCupid pernah dia gunakan. “Lagi enggak banyak kegiatan aja sih saat pandemi. Lalu, aku disuruh teman untuk coba,” sebut Tony. Menurut dia, menggunakan aplikasi kencan online itu cukup mengasyikkan karena bisa mendapatkan teman mengobrol baru yang beberapa di antaranya sampai pindah ke media sosial yang lebih personal, seperti WhatsApp atau LINE. “Saat teman aku tahu kalau aku menggunakan aplikasi kencan online, beberapa ada yang melihatnya wajar. Beberapa yang lain ada yang mengatakan kalau mereka tidak ‘semurah’ itu sampai menggunakan aplikasi kencan online.” Meskipun Tony mendapatkan komentar yang bercampur aduk, dia tidak menggubris sama sekali. Namun, dia tetap berharap kalau orang lain memandang aplikasi kencan online sebagai hal yang tidak tabu. “Untuk saat ini, aku sudah berhenti menggunakan dating apps sih karena aku sudah dapat pasangan. Bukan dari aplikasi kencan online tapi, ya,” tambahnya.

Ada pula Rafa (nama samaran), yang merupakan mahasiswa berusia 20 tahun, mengaku mulai menggunakan aplikasi kencan online sejak awal pandemi. Rafa mengaku alasan ia menggunakan aplikasi kencan online adalah untuk mengurangi rasa jenuh di tengah online class dan tertarik dengan fitur yang ditawarkan. Menurutnya, tidak semua orang yang menggunakan aplikasi kencan online memiliki motif untuk mencari pasangan. Aplikasi kencan online bisa digunakan sebagai media mencari teman bicara untuk menceritakan pengalaman sehari-hari. “Dulu, aku pernah kenalan sama orang yang udah kerja di perusahaan pertambangan. Aku dapet pengetahuan banyak banget tentang karier dari dia. Aku juga jadi termotivasi karena jurusanku juga cukup berhubungan sama dunia pertambangan,” ungkap Rafa. Akan tetapi, stigma negatif yang beredar mengenai aplikasi kencan online membuat Rafa tidak pernah mengaku secara terang-terangan kepada teman-temannya bahwa dia adalah salah satu pengguna.

Berbeda dengan Tony dan Rafa, seorang mahasiswa klaster kesehatan bernama Ichiocha (nama samaran) mengaku pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat menggunakan aplikasi kencan online. Ichiocha mengaku beberapa kali mendapat catcalling dari akun tidak dikenal. Kejadian yang paling parah adalah ia pernah diajak melakukan panggilan video yang menjurus ke arah pornografi dan mendapat pesan dari lelaki yang sudah memiliki istri. Pengalaman tidak menyenangkan tersebut membuat Ichiocha berpikir bahwa dunia luar penuh dengan orang-orang “bandel”. Akan tetapi, Ichiocha juga mengatakan bahwa stigma buruk yang beredar tentang aplikasi kencan online tidak seluruhnya benar. Apabila kita lebih selektif, kita bisa bertemu dengan orang-orang baik yang dapat membantu kita untuk berkembang.

Di luar pro dan kontra yang ada, menggunakan aplikasi kencan online menjadi salah satu bentuk adaptasi manusia di masa pandemi. Aplikasi ini menjembatani salah satu kegiatan yang mulai sulit dilakukan, yaitu bersosialisasi. Sayangnya, sebagian masyarakat masih memiliki pandangan negatif tentang aplikasi kencan online. Padahal, banyak manfaat yang dapat diterima di luar memperoleh pasangan. Memperluas koneksi, membuka sudut pandang baru, hingga mengurangi rasa sepi menjadi beberapa di antaranya. Tentu saja kita tetap harus berhati-hati dalam menggunakan aplikasi kencan online. Kita tidak bisa menyeleksi baik atau tidaknya seseorang hanya dari foto dan deskripsi yang mereka tampilkan di aplikasi.Memang benar aplikasi kencan online tidak menjadi satu-satunya media untuk bersosialisasi. Kita masih bisa mutualan di Twitter atau menggunakan media sosial lain. Namun, apa salahnya mencoba?